BLOG PILIHAN GENERASI LABALA

SELAMAT DATANG DI BLOG INI. TAAN ONEK TOU SOGA NARAN LEWOTANAH. LABALA TANAH TITEN.

Minggu, 19 Mei 2013

Perempuan Labala (6)


Elle Pito, Rapen Lema

Oleh Muhammad baran

Ina…
Puken elle tepelate,
Elle nete kolali duli lubun tukan

Ina…
Geni rapen tegelara,
Rapen bawa kolali pali wolon lolo

Sebenarnya eksistensi dan peran perempuan lamaholot sangat sugnifikan dalam kehidupan social-budaya orang lamaholot. Namun eksistensi ini seakan kalah pamor dengan eksistensi para lelaki yang memang lebih dominan memiliki kuasa dalam adat dan tradisi yang patrilinear. Seakan  ketika para perempuan ini menjalankan perannya dalam tata laksana adat dan kehidupan keluarga, itu hanyalah semata kewajiban yang tak pantas diganjar dengan harga yang setimpal. Ini sebuah ironi kalau enggan mengatakan petaka.

Meski kenyataannya beban tugas perempuan lamaholot umumnya melebihi kadar kemampuannya sebagai seorang ibu atau perempuan, namun dalam tradisi adat lamaholot, penghargaan  tetap diberikan lebih kepada para lelaki sebagai pemangku kebijakan. Sesuatu yang paradoks memang. Tapi inilah realita kehidupan yang mesti diterima sebagai sebuah perjalanan sejarah manusia.

Meski terjadi semacam ketimpangan dan ketidakadilan, namun para perempuan lamaholot yang tangguh ini sama sekali tak menuntut atau mengharap sebuah penghargaan, apa lagi sekadar pengakuan. Bagi mereka, pengabdian tulus kepada suami  dan pengorbanan untuk putra-putrinya merupakan kewajiban nomor satu. Keutuhan rumah tangganya adalah perioritas utama dalam hidupnya. Mereka akan menemukan kepuasan batin tersendiri manakala berhasil menjalankan pengabdian tersebut. Tak peduli meski pengabdian yang telah mereka persembahkan kerap tak mendapat apresiasi atau penghargaan yang sepantasnya.

Bagi saya, para perempuan lamaholot merupakan potret langka kesetiaan dan pengabdian yang nyaris total. Pengabdian tanpa menuntut imbalan. Pengabdian yang semata-mata karena panggilan nurani untuk menjalankan kewajiban sebagai istri bagi suaminya, dan ibu bagi putra-putrinya. Kemuliaan memang hanyalah milik mereka yang berkorban untuk kebahagiaan orang yang di cintai. Dan kemuliaan ini pantas diberikan kepada para perempuan lamaholot ini.

Kesetiaan dan pengorbanan perempuan lamaholot ini mungkin sulit dicari tandingannya di manapun saat ini. Maka alangkah naifnya bila peran atau kontribusi yang telah mereka berikan  tak mendapat ruang apresiasi dan penghargaan setimpal di hati sanubari putra-putri dan generasi lamaholot. Meski sekali lagi, mereka tak pernah meminta apresiasi itu.

Ina.. tani kaan louk gohuk
Ina .. hutan kaan ranet labot…..

Sebagai generasi muda, saya hanya bisa berharap, nilai-nilai positif yang lekat pada sosok kewae (istri) atau inak (ibu) atau berwae (Perempuan) lamaholot ini, meski tak semuanya, paling tidak sedikit menjadi teladan hidup dan diwariskan kepada generasi muda, terkhusus para perempuan di zaman sekarang. Ketulusan pengabdian para inak-inak ini bukanlah pengabdian buta, namun melalui  kesadaran nurani yang mendalam bahwa keutuhan  dan harmoni sangat dibutuhkan untuk melanggengkan sebuah ikatan keluarga dan rumah tangga masyarakat lamaholot.

Saya pun yakin, selama para perempuan lamaholot mengambil peran sebagai penyeimbang di tengah gejolak kehidupan yang sarat uji dan coba ini, baik kehidupan rumah tangga, masyarakat, dan bangsa, maka keseimbangan hidup akan terus lestari dan terjaga.  Namun bila sebaliknya yang terjadi, maka akan terjadi banyak kekacauan hidup lantaran para perempuan  menanggalkan fungsi sentralnya sebagai  penyeimbang kehidupan.

Ketika para lelaki yang memiliki kecenderungan egoisme dalam memanajemen kehidupan, maka kita butuh para perempuan untuk menjadi penawar asinnya egoisme para lelaki itu. Dan peran penting itu telah dijalankan oleh para perempuan lamaholot. Terkadang, untuk mewujudkan cita-cita keserasian dan keseimbangan hidup, maka pengorbanan dan pengabdian seperti yang diperankan oleh para perempuan lamaholot, sangat dibutuhkan di tengah kehidupan yang semakin jauh dari nilai kesetiaan, pengorbanan dan dedikasi yang tulus.

Ina.. pana peken di kenei
Ina.. gawe lupak di bedela… (**)

Perempuan labala (5)


Duli Tukan, Pali Lolon

Oleh Muhammad Baran

Ina .. duli tukan lali mai
Ina.. pali lolon haka mai
Pana maan golek duli,
gawe maan gawak pali

Sebagaimana yang telah saya bahas pada tulisan sebelumnya, bahwa kehidupan perempuan lamaholot setelah bersuami mendapat ujian  yang tidak mudah. Apalagi setelah keluarga baru tersebut dilengkapi dengan kehadiran nuba-nara (anak keturunan) menghiasi biduk rumah tangganya. Perempuan lamaholot kemudian mengarungi lika-liku kehidupan yang berat. Bahkan boleh dikata inilah babak kehidupan tersulit yang akan dijalani seorang perempuan lamaholot.
Sebagaimana umumnya kehidupan masyarakat flores, karena tuntutan ekonomi, umumnya laki-laki orang lamaholot setelah menikah, mereka akan meninggalkan anak-istrinya untuk nai doan (pergi merantau). Para lelaki ini umumnya pergi merantau dalam jangka waktu yang lama. Tak hanya setahun atau dua tahun, mereka merantau sampai belasan  bahkan berpuluh-puluh tahun lamanya.

Di sinilah peran seorang perempuan lamaholot diuji dengan lamanya penantian dan kewajiban menghidupi putra-putrinya di lewotanah (kampung halaman). Seorang diri perempuan lamaholot melalui pahit getirnya kehidupan mencari nafkah, merawat dan mendidik anak-anaknya dengan penuh cinta selama sang suami berada di tanah rantau.

Dalam kesehariannya, para perempuan lamaholot kemudian mengambil peran penting yang sebenarnya bukan tugasnya yaitu menjadi kepala keluarga. Dari sinilah  perempuan lamaholot kemudian membentuk  karakter pribadi nan tangguh, kesetiaan kepada suami tiada tara, ketabahan hidup mencari nafkah tanpa batas, rela berkorban untuk nuba-sili (putra-putrinya) yang dititipkan sang suami di pundaknya. Amanah yang teramat sangat berat di pikul bagi seorang perempuan. Di sini kadang saya berpikir, persepsi selamah ini bahwa perempuan adalah makhluk lemah dengan sendirinya terbantahkan.

Nuba…kame tani mayan oh ina
Nara ..kame hutan toen oh ina
Peten mo perohon hala,
Sudi mo pesayang kuran…

Dari interaksi yang intens dengan anak-anaknya  inilah sehingga perempuan lamaholot mewarisi nilai kesetiaan pada pasangan hidup, ketabahan menjalani hidup, kejujuran berperilaku dalam hidup,  serta kerja keras mengubah nasib hidup. Di sini, anak-anak lamaholot dididik oleh guru yang sebenar-benarnya. Anak-anak dididik dengan kasih sayang, cinta dan pengorbanan yang sesungguh-sungguhnya meski dalam keterbatasan. Maka jangan heran, orang flores umumnya dan terkhusus orang lamaholot terkenal sebagai perantau yang jujur dan ulet. Mereka adalah orang-orang terpercaya. Ini bukan bualan, tapi sebuah fakta. Ini adalah buah dari penanaman nilai luhur para inak-inak ata lamaholot nan tangguh itu.

Penanaman nilai-nilai luhur yang intens dan kedekatan emosional yang besar antara perempuan lamaholot dan putra-putrinya inilah menjadikan anak-anak mereka  cenderung lebih menghormati dan menyayangi sosok inak (ibu) sebagai idola dalam kehidupannnya. Mereka menganggap Inak adalah idola yang kata-katanya dianggap keramat.

Orang labala dan juga orang lamaholot umumnya mengenal istila koda dipelate, kiri digelara yang bermakna, petuah dan nasihat atau doa seorang inak (ibu) sangat keramat. Bila tidak diindahkan maka seorang anak bisa celaka dalam hidupnya.

Umumnya anak-anak lamaholot menghormati inak  murni karena kasih sayang dan balas budi atau jasanya mendidik dan membesarkannya. Sedangkan menghormati amak  lebih karena faktor penghormatan sebagai kepala keluarga yang mendapat kedudukan terhormat  di mata adat. Laki-laki dalam adat orang lamaholot memang memiliki kedudukan istimewa. Selain berwewenang mengurus tetek bengek  tata laksana adat, laki-laki juga lebih berhak mengatur urusan rumah tangga.

Meski demikian, karena para kelake  (lelaki/suami) orang lamaholot umumnya perantau selama bertahun-tahun, maka praktis biduk kehidupan rumah tangga dikemudikan oleh  kewae (perempuan/istri) sebagai kepala keluarga selama bertahun-tahun. Di sini, perempuan lamaholot memiliki peran ganda, yaitu selain sebagai ibu rumah tangga, juga sebagai kepala keluarga selama kepergian suami. Mereka mengerjakan tugas yang semestinya menjadi kewajiban laki-laki/suami seperti mencari nafkah dengan bekerja di kebun, mulai dari proses menanam, sampai memetik hasilnya. Belum lagi peekerjaan dapur rumah tangga yang menumpuk, juga tugas mengasuh anak dan aneka pekerjaan lain yang berjibun. (**)

perempuan labala (4)


Inak Pile Amak Tada, Gereun Ata Nimun

Oleh Muhammad baran

Tena data…

Nuba pulo lein lau,
lugu dore laran lali…
laran lali doan-doan
doan sagu atu matan..

Nara lema weran rae,
Gere tapin tewa weli…
Tewa weli lela-lela,
Kotadon luewa..

Selanjutnya, laki-laki yang akan menjadi calon suami bagi perempuan lamaholot berasal dari klan ana makin.  Biasanya agar hubungan  keluarga  dari klan ibu dan keluarga bapak tidak putus, para kebarek (gadis) lamaholot yang berasal dari klan ibu yaitu anak perempuan dari saudara kandung laki-laki  atau saudara sepupu laki-laki ibu. Orang Labala menyebut atau memanggil saudara laki-laki ibu dengan opu lake. Anak gadis dari opu lake inilah yang bisa di kawini.

Kebanyakan sistem kawin mawin seperti ini dianggap paling ideal. Meski sebenarnya di antara laki-laki dan perempuan yang dijodohkan masih memiliki hubungan darah yang sangat dekat atau bisa katakana saudara  sepupu. Hubungan perjodohan antara sepupu ini dalam bahasa adat  orang labala disebut gereun nimun.

Mai tobo tena lali,
Mai pae laya weli
Ama… ama… ama…

Model atau sistem perkawinan seperti ini dalam ajaran agama islam yang di anut mayoritas orang labala ini sangat terlarang. Sebab antara si lelaki dan perempuan  masih memiliki hubungan darah yang sangat dekat. Hanya saja, sebagai mana yang telah saya jelaskan sebelumnya,  pengaruh adat masih sangat kuat pada hampir semua kehidupan orang lamaholot

Babak selanjutnya dari kehidupan rumah tangga dan social perempuan hanyalah  mengabdikan diri kepada keluarga suami bahkan keluarga besar suku atau klan suami.

Bua tukan lau mai,
Bua bogeliki tena…
Tebede…tuka lau mai

Dayon lolon haka mai,
Dayon bogemapak laya…
Tebede… lolon haka mai

Bila ada acara adat di labala yang melibatkan semua suku atau klan misalnya, maka perempuan sepenuhnya membantu bekerja melayani kepentingan keluarga besar suku atau klan suaminya. Mulai dari urusan adat dimana perempuan memiliki tupoksi urusan dapur . Perempuan lamaholot ini dituntut gelekat suku lamak (mengabdi) secara total hingga selesai urusan adat.

Perempuan Labala adalah representasi perempuan lamaholot yang berdedikasi tinggi terhadap suami dan dan keluarga dalam suku lamak. Mereka hanya bisa melakukan gelekat (pengabdian) kepada keluarga inak-amaknya (ayah-ibunya) atau naan (saudara laki-lakinya) bila mendapat restu atau izin dari keluarga suami. Dalam hal ini kapasitas mereka (perempuan) dalam suku atau klan keluarganya adalah sebagai ina bine yaitu saudari atau anak perempuan yang kembali mengabdi kepada keluarganya.

Ole lolon nen temedo
Wura walen nen tedata…
Ama… ama... ama…

Selanjutnya, dalam kehidupan rumah tangganya, perempuan lamaholot kemudian mengarungi lika-liku  kehidupan yang tidak mudah. Apa lagi dalam keluarga baru tersebut dikaruniai anak keturunan, sang suami kemudian  pergi merantau berpuluh-puluh tahun karena tuntutan ekonomi.

Ama kata orangtua,
Mata ewan gosu-gosu…
Kaka ata lekot gayo,
Bolak ewan labot-labot…
Ama… ama… ama… (**)

Perempuan Labala (3)


Jodoh Sampe Hala Hae…

Oleh Muhammad Baran

Nuba kame ata medon
Timedo-medo, ata mete hulen lile..
Nara kame ata susah
Tisusah-susah,  onek mete noi denga

Sebagaimana yang telah saya singgung pada tulisan sebelumnya, karakter dan watak perempuan lamaholot umumnya dibentuk oleh aturan adat yang menuntut para perempuan  untuk mengabdi kepada laki-laki (suami)

Kepatuhan yang nyaris total terhadap adat yang cenderung memarginalkan peran perempuan inilah sehingga dalam hal pengambilan keputusan dan kebijakan, perempuan lamaholot nyaris tak  punya andil. Perempuan hanya berperan di balik layar terutama mengurus  keluarga, merawat dan membesarkan  anak, serta mengatur urusan dapur bila  ada hajatan adat.

Sesuai aturan adat, setelah dipingit dan menikah, kehidupan perempuan lamaholot terlepas dari ikatan keluarganya. Maksud saya, segala hal yang menyangkut tanggung jawab kehidupan perempuan, pihak keluarga  tak lagi memiliki kuasa melakukan interfensi atau campur tangan.  Perempuan lamaholot kini sudah menjadi milik keluarga suami, dan masuk menjadi anggota  keluarga baru suku atau klan suaminya.

Gaku liman sedon, mete pana mai
tiwan leik tepelea….
Towa leik barek, mete gawe mai
Walen lima tewelekot…

Praktis keluarga perempuan berlepas tangan dan menyerahkan  sepenuhnya tanggung jawab anak perempuannya kepada suami dan keluarga suami. Keluarga perempuan  hanya boleh campur tangan mengurus anaknya bila terjadi pelanggaran janji adat atau kesepakatan adat oleh pihak laki-laki  mengenai belis/weli (maskawin)  atau bila terjadi kekerasan fisik kepada perempuan yang melampaui batas yang dilakukan suaminya.

Di sini, keluarga perempuan lamaholot melakukan tuntutan adat atau terpaksa turun tangan  menyelesaikan masalah anak perempuannya. Selain dari persoalan itu, praktis  tak lagi ada wewenang atau otoritas  bagi keluarga perempuan  mencampuri kehidupan keluarga putrinya.

Umumnya perempuan lamaholot kawin dengan laki-laki pilihan orangtuanya. Lebih tepatnya , perempuan lamaholot dijodohkan. Mereka nyaris tak punya pilihan sendiri untuk menentukan pilihan menikah dengan laki-laki mana yang disukainya.

Remaka dako ata suku bela
onek sena tegerenga….
Turu tali ata riansare
Aek geka teberewo…

Sesuai aturan adat, selama para perempuan lamaholot belum bersuami, mereka sepenuhnya berada dalam tanggung jawab orangtua. Maka orangtualah yang paling berwewenang penuh mengatur kehidupan anak perempuannya, termasuk dengan laki-laki mana yang pantas untuk dijodihkan dengan sang anak.

Ini kedengarannya seperti kisah cinta siti nurbaya, namun inilah kenyataan yang harus diterima perempuan lamaholot. Suka atau tidak. Bahkan nyaris dalam tata laksana adat,  perempuan hanya memiliki kapasitas sebagai pelayan atau pelaksana  kebijakan adat. Mereka tidak memiliki wewenang  memutuskan kebijakan adat yang memang menjadi monopoli kaum lelaki.

Peten hala, maan wure bura
Kiden rae tewerekot uma tukan
Sama wato miten lango tukan

Sudi hala. Maan bene-bene
Tudak lau teberenga lango onek
Helon wura bura watan lolon. (**)

Perempuan Labala (2)


Sayang Go Binek e….

Oleh Muhammad Baran

Sayang go binek e…
Lodo pana dore mai
Welin bala rua, rae raan ro kae

pada kesempatan ini, meski sangat terbatas,  izinkan saya  sedikit mengulas tentang peran perempuan lamaholot, khususnya perempuan labala, kampung halaman saya. Peran yang saya maksudkan di sini adalah peran dalam kultur social budaya dan adat istiadat sebagai masyarakat lamaholot.
Di sini saya hanya membahas eksistensi dan peran  perempuan lamaholot saat menjelang  dan  dan setelah pernikahannya dengan laki-laki yang kelak menjadi suaminya, dan mengemban tugas sebagai ibu dari anak-anaknya.

Umumnya perempuan lamaholot, termasuk perempuan labala, sebelum berkeluarga, setiap keluarga sudah membekali anak perempuannya dengan keterampilan sebagai seorang perempuan. Keterampilan ini diharapkan menjadi bekal ketika kelak anak perempuan menjadi ibu rumah tangga dalam keluarga suami.

Pai tite hama-hama
soka sele mura rame
Nawo bine tite, maso suku wuun nae


Sebagai mana adat orang lamaholot pada umumnya anak perempuan yang masih kebarek (gadis) diajarkan keterampilan biho behi (memasak), tane tenane (menenun), ola belo atau mula belo (berkebun), hewi atau hewing (menganyam) dan beberapa keterampilan yang menjadi kewajiban seorang perempuan lamaholot sebelum memasuki jenjang perkawinan.. 

Pekerjaan dapur yang paling utama yang diajarkan inak (ibu) kepada kebarek(anak gadisnya) adalah petu wata (titi jagung). Ritual petu wata ini merupakan ritual wajib yang harus dipelajari seorang anak gadis lamaholot.

Selain petu wata, keterampilan  wajib lainnya yang dibekalkan inak kepada anak perempuannya adalah keterampilan tane tenane (menenun/tenun ikat). Untuk mahir menenun, Perempuan lamaholot terlebih dahulu menguasai keterempilan dasar dalam proses menenun. Keterempilan dasar yang dimaksud misalnya, kedu lelu (memintal benang kapas),  setelah benang kapas di pintal, perempuan lamaholot juga harus terampil hemma tou yaitu keterampilan mewarnai benang yang telah dipintal.

Sistem pewarnaan benang tenun menggunakan bahan alami berupa kelore (kulit akar mengkudu), apu (kapur sirih), tou (sejenis daun tumbuhan sebagai pewarna). Ketiga bahan dasar ini dihaluskan kemudian dicampur dengan air dan disimpan dalam keluba (belanga/periuk tanah) yang berisi benang yang sudah di pintal. Proses selanjutnya adalah mendiamkan benang tenun yang telah dicampur pewarna tersebut selama dua sampai tiga hari untuk memastikan pewarna merata dan benar-benar larut dengan benang.

Hasil dari keterampilan menenun adalah kewatek (sarung adat perempuan) dan Nowing (sarung adat laki-laki). Kedua keterampilan utama  yaitu petu wata dan tane tenane ini merupakan syarat mutlak  dikuasai sebelum seorang anak perempuan memasuki tahap atau jenjang kehidupan berkeluarga.

Sayang, sayang go binek e...
sayang go binek e.
gelekat suku wuun moe.
Gelekat maan sare-sare,
ake maan onem kuran.


Anak perempuan orang lamaholot juga sejak dini diajarkan untuk pintar ola belo atau mula belo duli-pali (bercocok tanam) di kebun. Keterampilan bercocok tanam ini sangat penting mengingat ini merupakan salah satu pekerjaan pokok perempuan lamaholot yang umumnya di tinggal pergi kelake (suami) ketika merantau.
Begitu juga, anak perempuan lamaholot harus bisa hewi atau hewing (menganyam). Umumnya keterampilan menganyam ini akan menghasilkan aneka kerajinan tangan seperti tikar sebagai alas tidur, penampih untuk menampih beras padi atau beras jagung, dan aneka mawa (Baskom) atau tempat yang digunakan untuk menyimpan hasil panen atau benih dalam jangka waktu yang panjang. Keterampilan lain yang juga dikuasai perempuan lamaholot adalah menganyam kote wili (kotak gendong) dan wajak yang berfungsi untuk menyimpan wua-malu (sirih-pinang) saat pesta pelaksanaan adat atau acara kematian. Perempuan lamaholot memiliki kebiasaan mengunyah sirih. Semua kerajinan anyaman ini menggunakan bahan dasar koli lolon (daun lontar)  atau pede lolon (daun pandan) yang sudah dikeringkan.

Demikianlah beberapa keterampilan dasar yang harus dikuasai oleh perempuan lamaholot sebelum mengarungi bahtera kehidupan bersama suami dan keluarga besar suku atau klan suami. Bila keterempilan dasar ini tidak dikuasai maka kemungkinan perempuan akan kewalahan dalam mengurus kehidupan rumah tangganya.

Pana gawe maan sare
Hukut kame naam ia…
Tobo napun bala, binek goe retero kae.. (**)

Perempuan Labala (1)


Perempuan Labala, Perempuan Lamaholot (1)


Oleh Muhammad Baran

Prolog

tulisan ini tak sepenuhnya utuh dan spesifik menjelaskan bagaimana eksistensi dan peran perempuan dalam adat dan budaya masyarakat lamaholot. selain karena keterbatasan pengetahuan saya, juga karena dalam menuangkan tulisan ini, saya tak melakukan penelitian (riset) mendalam dan langsung ke semua daerah flores timur dan lembata. tempat di mana orang lamaholot berdiam.

isi tulisan ini  sepenuhnya adalah pengalaman pribadi saya semata.  melihat dan mengamati langsung bagaimana kehidupan  perempuan di kampung halaman saya, Labala. terutama di tiga desa di kecamatan wulandoni yaitu, Labala Leworaja, Labala Mulankere (atakere) dan Labala Luki Pantai Harapan.

sebelum membahas tema utama sebagaimana judul tulisan ini, sekilas saya sedikit saya membahas  bagaimana peran adat istiadat dan budaya Lamaholot yang turut  membentuk perilaku dan watak atau karakter orang lamaholot, terkhusus perempuan lamaholot di labala.

masyarakat labala adalah bagian dari rumpun suku bangsa lamaholot yang merupakan rumpun mayoritas di dua kabupaten di provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). kedua kabupaten tersebut adalah Kabupaten Flores Timur (Flotim)  yang meliputi Flotim daratan, pulau solor, pulau adonara 
dan Kabupaten Lembata.

di sini, saya tidak membahas masyarakat (orang) lamaholot sebagai etnis. karena menurut saya,  ketika berbicara etnis, meski sedikit banyak  berhubungan dengan adat dan kultur budaya sosial orang lamaholot, namun persoalan etnis punya cakupan yang lebih luas.

setahu saya, masyarakat lamaholot termasuk dalam etnis Flores. yaitu masyarakat yang mendiami pulau flores mulai dari Kabupaten Manggarai Barat di ujung barat pulau flores, sampai Kabupaten Flores Timur di ujung paling timur pulau Flores. di sini, Kabupaten Lembata, tempat dimana orang Labala berdiam, termasuk dalam etnis Flores.

selain memiliki kesamaan adat istiadat dan budaya sosial, di Kabupaten Lembata, masyarakat Labala juga memiliki bahasa yang sama  yaitu bahasa Lamaholot (Kecuali orang kedang di pantai utara Kabupaten Lembata). perlu diketahui, bahasa Lamaholot merupakan salah satu kelompok bahasa daerah  yang populer di NTT. Bahasa lamaholot merupakan salah satu dari sekian banyak bahasa daerah di NTT dengan jumlah penutur terbanyak.

Karena sebagian besar pranata adat dan kehidupan sosial budaya orang labala memiliki kesamaan dengan sesama orang lamaholot yang lain,  maka saya menganggap (mungkin saja anggapan saya ini keliru) adat dan budaya orang labala bisa menjadi representasi adat dan budaya orang lamaholot di flores timur dan Lembata.

meski barangkali tak bisa dipungkiri, ada beberapa hal dari pranata adat dan kultur sosial orang labala  yang memiliki perbedaan  dengan orang lamaholot lainnya. entah perbedaan itu berupa dialek bahasa lamaholot, kebiasaan  pergaulan, dan juga beberapa aspek lain  yang tak bisa dipungkiri juga berbeda.

selain itu, letak geografis, atau perbedaan agama (iman) dan perkembangan  tekno logi moderen turut mempengaruhi adanya perbedaan itu.  pengaruh agama misalnya,  bisa mempengaruhi tata laksana adat istiadat yang dianggap bertentangan dengan keyakinan agama. begitu juga pengaruh gempuran teknnologi yang melunturkan nilai-nilai yang sudah dianggap sudah ketinggalan.

akan tetapi perbedaan-perbedaan  merupakan hal yang wajar manusiawi dan tak bisa dihindari. kita hanya butuh kepedulian ekstra untuk  tetap mempertahankan dan melestarikan tradisi danbudaya luhur yang kiranya masih relevan  dengan agama yang diyakini, juga kemajuan teknologi yang melesat dengan pesat.

meski demikian, masyarakat labala masih memegang kuat  tradisi adat orang lamaholot. terutama aturan tradisi kawin-mawin, pergaulan  antar sesama suku, bahkan hierarki  tata laksana  pembagian tugas  dalam persoalan agama, masyarakat masih mempertahankan aturan adat. mengenai hal ini saya tidak membahasnya di sini.

Meski agama Islam merupakan agama mayoritas masyarakat Labala, namun di labala, peran adat masih sangat kuat dalam kehidupan keseharian. Bagi masyarakat labala, adat dan agama merupakan dua sisi mata koin yang tak bisa dipisahkan. keduanya merupakan perwakilan dari urusan dunia dan akhirat.  bahkan meski badai tsunami moderenisasi telah menyusup di sela-sela kehidupan masyarakat yang berdiam di pantai selatan Kabupaten Lembata ini, namun talut adat  benteng tradisi orang labala masih terlalu tangguh  untuk dikikis oleh abrasi laut  morerenitas itu. (Bersambung...)

Sabtu, 02 Maret 2013

Raja Labala; Mayeli atau Lamarongan?

Raja Labala; Mayeli atau Lamarongan?

(Menguak Serak Sejarah Kerajaan Labala)

Jujur sejak lama juga sebenarnya goe ingin cari tahu terkait ini. Bukan bermaksud membela yang satu dan menghakimi yang lain, namun murni menelusuri kemurnian (kalau enggan mengatakan kebenaran) sejarah kerajaan labala.

Sebenarnya kita punya banyak bukti sejarah yang bisa dijadikan rujukan. Sayangnya, seiring berjalannya waktu, kepedulian generasi labala untuk menghimpun bukti-bukti tersebut sangat minim, bahkan boleh dikata, tidak ada. Makanya kita hanya mengandalkan cerita lisan yang hanya berdasarkan ingatan. Padahal, yang namanya cerita, bila diceritakan lisan dari mulut ke mulut dan diwariskan turun temurun, bisa saja terjadi distorsi (pengaburan) dan salah tafsir. Ujung-ujungnya, cerita kemudian menjadi kabur atau malah ditambahkan tanpa dasar yang sahih.

Makanya sewaktu saya masih kecil, meski selalu diceritakan asal usul suku-suku yang ada di labala dan sejarah pelarian Raja Mayeli dari Lepan Batan pasca peristiwa huru hara,
sayangnya semua cerita yang dikisahkan orangtua ini, saya malah menganggapnya hanya dongeng pengantar tidur belaka. Bukan merupakan fakta sejarah.

Sedikit Refleksi

Kedatangan Raja Mayeli beserta pemangku dan ribu ratunya dengan menggunakan perahu dan kemudian mendarat di tanjung leworaja. Di tanjung leworaja ini raja dan ribu ratunya bertemu dengan dua orang kelompok penduduk asli yang berdiam di tanjung leworaja yaitu Dewa Kaka no Dewa Ari. Kedua bersaudara ini merupakan cikal bakal penduduk asli suku labala.

Dalam perkembangan selanjutnya, Dewa Kaka ini memiliki keturunan orang-orang yang bermarga labala (resiona, keroiona, duaona, enga daiona) yang bergabung dengan beberapa kle yang juga adalah penduduk asli labala (lerek, soap,kelobon,kahawolor lewokro,mudaj, lebao, bakiona dan beberapa kle lain)

Sedangkan Dewa Ari kemudian memiliki keturunan yang sekarang menjadi penduduk asli di desa mulankera (nama asli sebenarnya, Ata Kera). Disini tak bisa di nafikan, mulankera meski berpenduduk mayoritas kristen, mereka juga adalah orang labala asli sebelum datangnya pengaruh agama islam-kristen. 
Karena toleransi masyarakat labala yang sangat tinggi akan keberadaan kedua agama ini, maka diputuskan, Dewa Ari dan keturunannya memilih memeluk agama kristen, sedangkan Dewa kaka memilih memeluk agama islam. Selanjutnya dalam pranata adat, masyarakat mulankera sering disebut lewo ari (kampung adik) sedangkan leworaja sering disebut lewo kaka (kampung kakak). Maka tak heran ketika misi kristen membangun sekolah pertama di labala, maka nama sekolah yang diberikan  adalah SDK Labala, dan bukan SDK mulankera. Ini karena menurut fakta sejarah, masyarakat Mulankera merasa bahwa mereka juga adalah orang labala.

Saya bersyukur karena saya dilahirkan dari keluarga asli labala yaitu campuran empat suku besar di labala, yaitu dari garis keturunan bapak, saya bermarga Labala enga daiona (suku asli orang labala) pemilik rumah adat senera (taran wanan) dan dari garis keturunan ibu (suku mayeli atulangun) nenek (suku lamarongan) moyang (suku teron). Maaf saya tak bermaksud membangga-banggakan keturunan, tapi hanya sekadar contoh betapa meski saya adalah asli putra labala, namun kerap kebingungan ketika ditanya tentang sejarah labala, termasuk pertanyaan seperti judul tulisan di atas.
Sapakah Ata Geha (Kiwan Mayeli)?

Persoalan yang sama juga, terkait klaim kedua suku ini (mayeli vs lamarongan) yang masing-masing mengatakan paling berhak mewarisi tahta kerajaan labala. Istilah raja kre dan raja bela juga masih menjadi kontroversi.

Info yang bisa goe bagi disini, dalam silsilah keturunan raja labala adalah, sebelum Raja Ata Geha (kiwan Mayeli) dinobatkan menjadi raja, keturunan raja labala adalah suku mayeli. Namun ada terputus silsilah raja, lantaran tidak ada laki-laki dari suku mayeli yang melanjutkan/mewarisi tahta.

Karena suku lamarongan juga merupakan kerabat Raja, maka dipanggil salah seorang kebele lamarongan yang bernama asli Ata Geha untuk meneruskan tahta kerajaan. Kalau goe tidak salah, Ata Geha (orang lain) berasal dari klan lamarongan reta pukan atau bui pukan. Keturunan langsung dari Ata Geha hingga sekarang sekarang adalah cucu-cicitnya Nene Heku Rongan. Istri Nene heku yaitu Nenek Anahae berasal dari suku Mayeli atulolon.

Untuk lebih lengkapnya, silahkan masing-masing pulang ke lewotanah dan silahkan mencari/menelusuri jejak sejarah labala.
Bangga aku jadi orang Labala. Satu-satunya kerajaan otonom di kabupaten Lepan Batan (Lembata). Kalau anda? (**)