BLOG PILIHAN GENERASI LABALA

SELAMAT DATANG DI BLOG INI. TAAN ONEK TOU SOGA NARAN LEWOTANAH. LABALA TANAH TITEN.

Sabtu, 19 Maret 2016

Gretep; Burung Garuda Dalam Cerita Sejarah Orang Labala


griffin - DeviantArt
www.deviantart.com



Gretep adalah nama burung mitos (sejenis burung elang/rajawali/garuda) yg mencengram benang kapas (kedu-lelu) milik putri/saudari perempuan Raja Mayeli (Raja Labala pertama dari LEPAN-BATAN)*. 

Burung gretep inilah yang menjadi penuntun perjalanan Raja Mayeli bersama rakyatnya dalam perjalanan berlayar dari LEPAN-BATAN hingga berlabuh di pantai Tanjung Lewonuba (sekarang Labala-Leworaja-Lembata-NTT).

LEPAN-BATAN dalam kisah sejarah Orang Labalah adalah nama daratan atau benua yang hilang atau tenggelam karena peristiwa bencana dahsyat air bah atau tsunami yang terjadi pada jaman dahulu kala. Bencana dahsyat inilah yang menyebabkan eksodus massal penduduk benua tersebut untuk melakukan perjalanan, berlayar mencari tempat tinggal baru. Cerita air bah dan tenggelamnya benua atau daratan ini memiliki kesamaan dengan cerita banjir air bah pada jaman Nabi Nuh AS.

Tulisan ini hanya fokus pada cerita perjalanan Raja Mayeli dengan burung mitos yang disebut Gretep (elang/rajawali/garuda). Kata "gretep", bila ditelusuri dalam Bahasa Labala, berasal dari kata Gipe (menjepit dengan kuat), gripe (jalanan/jalur yang sempit/mencekik sehingga susah dilalui), grape= Robek/koyak karena cengkraman/tarikan/renggutan/genggaman yang sangat kuat...

Dalam banyak kisah mitos sejarah asal-usul di berbagai negara, digambarkan bahwa burung dengan ciri khas mencengkram, merenggut, mencekik dengan cakarnya yang kuat dan kokoh adalah burung elang/rajawali, yang dalam banyak mitos disebut burung garuda (Misalnya cerita tokoh wisnu/erlangga/angling dharma yang mengendarai burung garuda).

Itulah mengapa diberbagai negara seperti di indonesia misalnya, burung rajawali/garuda dijadikan lambang negara. Ada juga organisasi yang menjadikan burubg rajawali/garudasebagai logo organisasi karena burung rajawali/garuda ini merupakan representasi dari kekuatan, ketangguhan atau keperkasaan.

Di sisi yang lain, seperti di Labala misalnya, burung gretep (elang/rajawali/garuda) ini diyakini sebagai penuntun, pembimbing, pengarah dalam perjalanan menuju tujuan akhir atau menuju cita-cita tertinggi. Ini digambarkan dalam cerita perjalanan Raja Mayeli menuju atau mencari tempat baru yang dituntun atau dibimbing oleh burung gretep ini.

Saya teringat kisah dalam sebuah buku hikayat yang dalam terjemahan bahasa indonesia berjudul "Musyawarah Para Burung" atau "Parlemen Burung". Buku ini adalah karya sastra klasik sufistik yang ditulis oleh seorang Ulama Sufi yang bernama, Fariduddin Al-Attar. Dalam hikayat sufistik ini, diceritakan perjalanan segerombolan burung yang dipimpin oleh seekor burung sebagai pemimpin dan penuntun perjalanan. Pemimpin para burung ini bernama Burung Hud-hud (nama burung yang di ambil dari kisah Nabi Sulaiman AS dan Ratu Balgis). 

Dalam hikayat sufi ini diceritakan, gerombolan burung yang dipimpin atau dibimbing oleh Burung Hud-hud ini, melakukan perjalanan panjang melintasi tujuh lembah penderitaan dan tujuh lembah kesenangan yang merupakan batu ujian untuk bisa sampai ke istanah Burung Simurg (Raja Burung). Cerita dalam hikayat ini sejatinya adalah gambaran perjalanan spiritual (ruhani/batin) manusia menuju Tuhan.

Hikayat 'Musyawarah Para Burung" ini, meski hanya sekadar cerita pembimbing spiritual sufistik, namun sedikit banyak memiliki kesamaan makna dengan kisah sejarah perjalanan Raja Mayeli yang dibimbing oleh Burung Gretep.

Sedangkan untuk kata rajawali, dalam konteks sejarah Orang Labala bisa dimaknai sebagai; "Raja" dan "wali" yang berarti pendamping atau penuntun raja dalam perjalanan pelayaran. Kita mengenal istilah wali kelas (pendamping siswa dalam kelas), wali murid (orangtua/pembimbing murid), wali kota/wali negeri (pejabat yang menjadi wakil/pemimpin masyarakat). 

Cerita burung Gretep ini mengingatkan saya pada cerita mitos tentang makhluk Griffin, yang dalam banyak gambar terlihat menyerupai burung elang/rajawali/garuda namun berbadan singa yang kekar. Hal yang unik adalah, entah kebetulan atau memang ada keterkaitan sejarah, kata "Griffin" dalam Bahasa Eropa Latin memiliki kesamaan arti dan makna dengan kata "Gretep" dalam Bahasa Lamaholot Labala. Kata griffin dari bahasa latin berasal dari kata "grip" artinya mencengkram, grab artinya merenggut atau merampas, "gripe" artinya memegang kuat-kuat atau menggenggam erat-erat.
Sekali lagi, entah kebetulan atau tidak, kedua kata ini; Griffin (bahasa latin) dan Gretep (Bahasa Labala) nyaris memiliki persamaan arti dan makna yang mungkin saja memiliki hubungan sejarah yang misterius tentang mitos burung garuda.

Selain itu, makhluk Griffin ini dalam banyak hikayat dikaitkan dengan malaikat. Makhluk gaib yang diutus Tuhan untuk menjadi pembimbing atau penuntun bagi manusia yang berbuat kebajikan, atau sebaliknya bertugas sebagai pemberi hukuman kepada manusia yang berbuat kejahatan. Kombinasi antara sifat tegas (mencengkram) dan sifat lembut (membimbing/menuntun) ada pada kisah burung gretep yang mencengram benang kapas dan menjadi penuntun Raja Mayeli selama dalam perjalanan pelayaran mencari tempat baru.

Demikianlah sekelumit tulisan yang saya persembahkan ini. Meski apa yang saya tulis ini barangkali bukanlah sebuah fakta kebenaran yang final, namun semoga apa yang telah saya paparkan di atas, bisa menjadi bahan bagi para pembaca untuk mengulik aneka cerita yang melatari keyakinan akan mitos cerita asal Burung Garuda, yang oleh para pendiri bangsa dijadikan lambang Negara Repubik Indonesia yang tercinta ini. Salam. (**)

~AtaLabala~
-----------------------------------------------------------------------=====
Catatan:
LEPAN-BATAN, dalam penuturan sejarah orang Labala, adalah tempat yang diyakini sebagai "Nuha=benua" yang berarti benua atau daratan yang hilang karena tenggelam pada peristiwa air bah atau tsunami dahsyat pada jaman dahulu kala. Bencana air bah inilah yang menyebabkan Raja Mayeli (Yang kemudian menjadi Raja Labala pertama) bersama rakyatnya melakukan perjalanan dengan berlayar menggunakan tena (perahu layar). Cerita yang mirip dengan kisah bahtera Nabi Nuh As ini diceritakan oleh nenek moyang Orang Labala secara oral (lisan) turun temurun dari generasi tempo doeloe yang hidup entah berapa puluh ribu tahun silam...(**)

Lembata; Tanah Baja Katanya...

(Rindu yang tertunda, cinta yang tak kunjung sampai)

Lembata; katanya tanah baja. Tapi mengapa banyak anak-anakmu yang lahir tak terurus?

Lembata; katanya tanah sare. Tapi kenapa generasimu hampir pasti punya masa depan yang suram dan kelabu?

Lembata; alusta alusi, tanah lembata helero. Tapi kenapa generasimu terpaksa pergi merantau, mencari hidup, menuntut ilmu di negeri orang?

Mereka terpaksa menjadi apa saja yang mereka mampui, menjadi siapa saja yang mereka sanggupi.

dan setelah itu, kerinduan yang mendalam kepadamu, memanggil mereka kembali. Mereka memilih pulang untuk mengabdi, untuk berbakti.

tapi apa yang mereka terima? tak ada. mereka malah dianaktiirikan. Tapi apa yang mereka dapatkan? Juga tak ada. Mereka seperti kiden-nukak di tanah kelahirannya sendiri yang mereka sebut; Lewotanah, ibu pertiwi....

sayangnya, ibu pertiwi yang mereka rindukan itu, ibu pertiwi yang mereka cintai itu, kini telah menjadi ibu tiri....

maka jangan pernah kau salahkan mereka, bila akhirnya mereka memilih untuk durhaka...

kalau begitu, ini salah siapa? lalu, ini dosa siapa?

yang pasti, ini bukan salah ibu yang melahirkan mereka dengan penuh harap, bukan pula salah ayah yang membesarkan mereka dengan doa-doa yang tak pernah pupus.

Karena dari ibulah mereka belajar makna; gelekat lewo. Dan dari ayahlah mereka merapal makna gewajan tanah....

maka, jangan pernah kau berbangga, bila ada di antara mereka yang merantau, akhirnya menuai sukses di negeri orang....

yah jangan pernah kau berbangga. Kau memang tak pantas berbangga, karena kau tak punya andil atas keberhasilan mereka....

tanah lembata helero...
tanah lembata sare...
tanah lembata hara die...
dende reo ee...

yah, Lembata; tanah baja katanya...

~AtaLabala~

Minggu, 31 Januari 2016

Berjanjilah Untuk Tidak Melupakan, Arike...

Foto: koleksi pribadi


Melawan lupa...

Kau masih ingat, Arike? Di atas jembatan ini, kali mati Waibelehe. Ketika hari sudah mulai sore, dan matahari sudah

berada di punggung gunung Labalekang...

"Berjanjilah untuk tidak lupa dan melupakan." Itu katamu waktu itu.

"Tapi, bagaimana bila aku lupa?" Aku malah balik bertanya.

Kau terdiam sebentar. Sejenak berpikir.

Tiba-tiba, sambil tersenyum, kau kemudian berkata,"Ah lupakan saja kalau begitu, Bang."

Hening sejenak. Angin laut Teluk Labala berhembus sepoi. Pelan saja..

"Sebenarnya, yang terpenting itu bukan soal lupa dan melupakan." Aku membuka percakapan lagi.

"Lalu apa, Bang?" Kau langsung menyambar dengan pertanyaan. Sepertinya kau penasaran.

"Bagiku, yang terpenting adalah bagaimana usaha kita untuk melawan lupa."

"Ya, kalau aku dan abang tak lupa." Kau menjawab. Singkat saja.

Dan kita berpisah sejak sore itu. Tanpa kabar. Sudah bertahun-tahun. Entah kau atau aku yang kalah melawan lupa....

~AtaLabala~

Cerpen ini sudah diterbitkan di: http://fiksiana.kompasiana.com/muhammadbaran/berjanjilah-untuk-tidak-melupakan-arike_56add6ae349373ea065669f5

Senin, 11 Januari 2016

Tentang Bahasa Lamaholot Labala...

"Salah ucap salah arti, salah dengar salah paham"...

Demikianlah kiasan yang pas untuk keunikan Bahasa Lamaholot Labala. Salah sebut atau salah ucap kata, maka akan salah arti. Dan akhirnya membuat bingung. Sebaliknya, sala dengar atau salah simak kata, maka akan salah pengertian. Dan akhirnya bisa terjadi kesalahpahaman yang berujung pada pertengkaran...

Inilah uniknya Bahasa Lamaholot Labala....

Berbeda dengan bahasa Lamaholot Adonara, solor, Flores timur daratan yang cenderung memiliki dialek dengan intonasi yang berombak dan bergelombang atau dialek bahasa Lamaholot orang lewotolok, lamalera atau orang kiwan (pegunungan) yang sedikit mendayu dan berkelok...

Bahasa Lamaholot Labala seperti tak memiliki dialek dengan intonasi yang khas. Bahasa Lamaholot Labala justru nyaris tanpa liku dan gelombang. Selebihnya, datar dan lurus. Makanya, ketika bertutur atau berbicara, orang labala kedengaran lebih lembut, tapi nyaris tanpa ekspresi karena datar dan lurus. Hal ini karena Bahasa Lamaholot Labala memang tak mengenal variasi nada yang mencolok ketika bercakap-cakap.

Karena Bahasa Lamaholot Labala cenderung datar, lurus tanpa variasi intonasi nada yang berliku dan bergelombang, maka ketika meniru logat bahasa tutur dari daerah yang lain orang labala tak banyak mengalami kesulitan. Bahkan orang Labala lebih cepat meniru dialek bahasa lamaholot khas adonara/solor dan bahasa lamaholot lewotolok, lamalera, atau bahasa orang kiwan (gunung). Sebaliknya, orang lamaholot dari luar labala justru kewalahan meniru dialek Bahasa Lamaholot Labala ketika bertutur...

Salain unik dalam hal dialeg yang hampir tanpa intonasi yang bervariasi, Bahasa Lamaholot Labala juga memiliki kekhasan/keunikan lain. Dalam hal perbendaharaan kosakata bahasa, Bahasa Lamaholot Labala kaya dan unik akan kosa kata bahasanya....

Sebuah kosa kata yang sama persis, bisa memiliki arti dan makna yang banyak dan berbeda. Maka untuk membedakan kata yang sama persis guna mendapatkan pengertian dan makna yang berbeda, pendengar sebagai penerima informasi harus menyimak dengan saksama dari pengucap atau pembicara sebagai penerima informasi. Begitu juga sebaliknya, pengucap atau pembicara sebagai penyampai informasi harus jelas dan terang ketika menyampaikan informasi. Bila tidak, maka akan terjadi mis komunikasi atau kesalahpahaman. di sini, berlakulah kembali hukum "salah ucap salah arti, salah dengar salah paham"....

Contoh/misal kata:

1 Bette= Meledak/meletus (bom)
2 Bette= Mencabut/mencopot (bulu)
3 Bette= Membakar biji (biji jagung)
4 Bette= kondisi antara tidak lagi muda, tapi belum tua (buah kelapa)
5 Dll...

Perbedaan ke-4 kata di atas tergantung intonasi dan cara pelafalan. Orang Labala pasti langsung paham maksud saya. namun yang bukan orang labala, perlu sedikit praktik atau pembiasaan. Perbedaan ke-4 kata di atas terletak pada bunyi huruf e pada kata "ember" dengan bunyi huruf e pada kata "enam". Selain itu alunan nada pada bunyi huruf e juga mempengaruhi perubahan makna dan arti.

Selain itu, kosa kata (khususnya kata benda dan kata kerja) dalam bahasa Lamaholot Labala juga memiliki klausa yang unik sesuai fungsi atau konteks kalimat yang menyertai atau disertainya. Misalnya, setiap aktifitas yang sama namun objek yang menjadi sasaran aktifitas berbeda, maka kata benda atau kata kerja yang digunakan juga berbeda, padahal kegiatan/pekerjaan/aktifitas yang dilakukan sama.

Contoh/misal kata:
1 Poro (memotong tali dan sejenisnya)
2 Gemekku (memotong ranting kecil dan sejenisnya)
3 Belu (memotong dahan dan sejenisnya)
4 Belo (memotong tangan/anggota badan manusia)
5 gekka (memotong daging menjadi kecil-kecil)
6 Gettu (memotong sambungan kabel dan sejenisnya)
7 Sebelle (memotong/menyembelih binatang)
8 Loto (memotong ranting pohon besar)
9 Pau (memotong setenga anggota badan/bagian pohon)
10 Tewa (memotong daun kelapa/lontar dan sejenisnya)
11 Dll...

ke-10 contoh kata di atas adalah untuk menyatakan aktivitas memotong. namun setiap kata, tak bisa digunakan sembarangan atau ditukar-tukar konteks kerjanya. Bila kata "poro" yang seharusnya berarti memotong tali temali, namun digunakan untuk menyatakan memotong dahan atau ranting kayu, maka terjadi kesalahan berbahasa, karena tak menempatkan kata pada tempat yang semestinya.

Contoh/misal kata yang lain:
1 Baha (mencuci pakaian)
2 dessa (mencuci/membersihkan lantai rumah)
3 hue (mencuci piring)
4 oko (mencuci perkakas yang berat & besar)
5 puu/puo (mencuci tangan)
6 hebu (mencuci muka)
7 dll...

Setiap kata dari ke-6 contoh kata di atas sama-sama berarti, mencuci. Namun tak bisa digunakan untuk sembarang aktiivitas mencuci. Bila kata-kata tersebut tertukar penggunaannya, maka dianggap kesalahan berbahasa yang fatal.

Masih banyak keunikan Bahasa Lamaholot Labala yang lain. Namun beberapa contoh yang saya sajikan ini, kiranya menjadi gambaran, bahwa umumnya bahasa Lamaholot memiliki kekayaan perbendaharaan kosa kata yang melimpah. Selain melimpah dengan kosa kata yang berkaitan mata pencaharian seperti bertani, beternak dan nelayan, bahasa Lamaholot juga termasuk bahasa yang kaya dengan kosa kata mistik religius, yaitu kosa kata bahasa yang berhubungan dengan keyakinan agama tradisional (agama asli) orang lamaholot.

Sekadar contoh, berikut saya sajikan beberapa kata sekadar gambaran betapa melimpahnya perbendaharaan kosa kata Bahasa Lamaholot.

Contoh/misal kata:

1. Lewo-tanah, Lerawulan-Tanah ekan, Alap/alapen, artinya Sang Ilahi atau Tuhan Sang Pemilik (Allah), Tanah Suci, tanah air.
2. Uma Lango, koko bale, uma tukan, lango berui/weruin, artinya Rumah, Rumah Suci (rumah adat)
3. Atadike, atasare, ata mela, ata alus; artinya Manusia (yang berbudi, beragama, berpikiran, berbudaya, beradat, bertuhan)
4. kewasa, bela, baja, nete, nei, sera, soro, hode, neka dll.. artinya menyatakan ke-maha-an Tuhan (maha kaya-kuasa, maha besar-agung, maha kasih-sayang, maha adil-bijaksana, maha pengampun-pemaaf, dll)
5. Meppo-Mala, Diki-gole, maje-toe, liko-lapak, jaga gerian, gelekat gewayan, waja-dopi, ume-lama, dll. Semua kata ini berhubungan dengan kebajikan/kebaikan yang kita lakukan sebagai wujud pengabdian kita kepada Tuhan dan pelayanan kita kepada sesama manusia,sebagai khalifah Tuhan di muka bumi-Nya ini.

Demikianlah sekelumit gambaran tentang Bahasa Lamaholot Labala. Meski di sana-sini ada perbedaan dengan bahasa lamaholot yang lain, namun perbedaan itu hanya pada persoalan teknik berbahasa tutur. Selebihnya, bahasa lamaholot, di manapun itu sama secara garis besar. Karena meski berbeda dialek, hampir semua orang lamaholot mengerti dan paham dengan bahasa lamaholot dari daerah manapun.

namun bagaimanapun, Bahasa Lamaholot Labala tetap unik, terutama dalam hal dialeg yang nyaris tanpa intinasi yang gempar menggelegar. Inilah barangkali yang membuat orang labala menjadi unik dan susah ditebak secara psikologis. Dalam pergaulan, orang labala memang cenderung misterius karena pembawaannya yang nyaris tak terpahami dan tak terduga. Atau saya mungkin keliru dalam hal yang terakhir ini. Entahlah...

~AtaLabala~

Kamis, 07 Januari 2016

Ata Lamaholot (Orang Lamaholot)

Ata Lamaholot
(Orang Lamaholot)

Apakah kau orang lamaholot? Kalau iya, apakah kau tahu apa itu Lamaholot? Lamaholot itu etnis/suku bangsa yg mendiami kepulauan solor dan alor.

Orang lamaholot adalah atadiken (ata= manusia, diken= baik/berbudi luhur) yg beradat, berbudaya, dan bertradisi Lamaholot.

Dalam bahasa Labala, Lamaholot kata "Lama= piring/mangkok" yang berarti tempat/wadah menaruh makanan dan minuman dan "Holot" yang berarti selalu penuh/berisi. Lamaholot adalah tanah atau negeri yg penuh/melimpah dengan berkat.

Setiap suku/klan dibedakan atas "Lama". Orang labala menyebutnya "Ume Lama", artinya jatah/atau bagian yang telah ditentukan bagi setiap suku/klan.

Ume Lama merupakan istilah adat yang digunakan mengungkapkan garis batas kewenangan  atau tugas bagi setiap suku/klan.

Antara satu suku/klan dengan suku/klan yang lain tak boleh mengambil alih atau merampas dan menguasai jatah atau kewenangan suku/klan yang lain.

Holot artinya, tak pernah putus, selalu sambung menyambung. Holot juga berarti terus berjalan tak pernah berhenti atau seperti air yang terus mengalir tak pernah kering. Bila ada tali atau ikatan yang terputus, maka harus di Holot atau disambung.

Lamaholot  berarti "Lama= tanah/kampung" dan "Holot= terus melangkah/mengalir" yang berarti tanah air tumpah darah yg mistis religius..

Lamaholot (usu asa timu matan lera gere), adalah asal usul peradaban religius, peradaban ketuhanan yg melangit, mengangkasa.

Lamaholot (holot dike tapan sare), adalah asal mula peradaban kemanusiaan yg merayap dan membumi.

Orang lamaholot adalah tipikal manusia yang tahu diri, tahu tugas dan kewenangan. Dia tak akan pernah berpikir licik dan berniat busuk untuk merampas atau memiliki sesuatu yang bukan haknya. Dia tak akan mengklaim milik orang lain sebagai miliknya.

Orang lamaholot adalah manusia yang tahu diri, bahwa dirinya adalah Atadike (ata= manusia/orang, dike= baik/berbudi )

Orang lamaholot adalah manusia yang dinamis, yang selalu berpikir dan berbuat sesuatu yang baik dan bermanfaat. Karena orang lamaholot memiliki filosofi hidup "gelekat lewo, gewayan Tanah" yang artinya, berbakti kepada Tuhan dan menjadi pelayan kepada sesama manusia.

Orang lamaholot berwatak "solor/solar (matahari)" yang kehadirannya senantiasa menjadi terang jalan dan kebenaran. seperti matahari,  kehadirannya selalu memberi manfaat.

Orang lamaholot adalah Atadike (manusia paripurna/insan kamil), budi dike akal sare (berbudi luhur, berpikiran lurus). Pantang Ata Lamaholot untuk berlaku amoral (bejat) dan berpikir licik kepada sesamanya, apa lagi kepada Tuhan.

Yah orang lamaholot adalah personifikasi kemuliaan yang melangit dan  kebajikan yang membudi; Lewotanah= lera wulan-tanah ekan= Alape= Allah= Sang Pemilik.

Orang lamaholot adalah manusia pilihan, manusia yang diberkati, manusia yang darinya asal-usul peradaban manusia.

Maka, berbanggalah menjadi orang Lamaholot, jangan tidak. Karena jika kau tak punya kebanggaan, lalu siapa lagi yg mau membanggakan adat leluhurmu, tradisi dan budaya nenek moyangmu? yah siapa lagi?

~AtaLabala~

Mushaf al-Qur'an Tertua di Asia Tenggara.

Islam di Kabupaten Alor-NTT

Mushaf al-Qur'an Tertua di Asia Tenggara.

Mushaf al-Qur'an ini ditulis diatas lembaran kulit kayu, dibawa dari kerajaan ternate-Tidore oleh seorang penyebar Agama Islam bernama Lan Gogo ke Alor pada tahun 1500 M (abad 15 M).
Sebelum kedatangan Bangsa Portugis ke Nusantara pada abad 16 M, yang disususl dengan bangsa Belanda pada pertengahan abad 16 M, Agama Islam sudah tersebar di Kepulauan Alor, Yang terkenal dengan Bandar GALIAU WATANG LEMA dan kepulauan solor (Lembata, Adonara, solor, Flores Timur daratan) yang terkenal dengan Bandar SOLOR WATANG LEMA...
~AtaLabala~~

Minggu, 01 November 2015

Ata Dike Ata Sare


Ata artinya orang. Ata adalah sebutan atau julukan kehormatan bagi makhluk yang bernama manusia. Hanya manusia yang disebut dengan panggilan ata. Ata dike artinya orang yang baik atau manusia yang baik. Ata sare artinya manusia terhormat dan melimpah dengan kehormatan.

Orang Labala mengenal ungkapan, dike-dike sare-sare yang berarti yang sesungguh-sungguhnya atau yang sebenar-benarnya, tanpa ada kebohongan atau pemutarbalikan fakta. Onem dike sare artinya hati yang tulus lagi ikhlas. Ketulusan yang lahir dari lubuk hati manusia yang berperikemanusiaan.

Manusia adalah ata budi dike, yang jauh dari niat licik. Manusia adalah ata akal sare yang jauh dari segala macam kepentingan pribadi dan akal picik. Manusia memiliki kecerdasan sebagai hamba yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan. Dan manusia juga memiliki kecerdasan sebagai insan dengan moral yang luhur kepada dirinya dan kepada sesamanya.

Manusia adalah ata budi adat yang menjunjung tinggi adab dan bukan malah berperilaku biadab kepada sesamanya. Manusia adalah ata akal agama yang senantiasa merasa selalu dalam pengawasan Tuhan dan bukan malah memilih durhaka kepada Tuhannya.

Pada manusia terhimpun segenap kebaikan. Meski manusia sebagai ata dike ata sare, namun pada momen tertentu ketika lalai, ketika terlalu silau dengan kehidupan duniawi, maka dirinya bisa jatuh tergelincir, bisa terjerumus karena tak kuat menahan goda.

Namun Tuhan Maha Pengampun. Kepada manusia, Dia menyediakan fasilitas taubat. Dan kepada- Nya manusia memohon ampun, leta dike ampon sare. Pada momen ini, manusia sebagai ata dike ata sare, berjanji untuk tak mengulangi kesalahan yang sama. (**)