BLOG PILIHAN GENERASI LABALA

SELAMAT DATANG DI BLOG INI. TAAN ONEK TOU SOGA NARAN LEWOTANAH. LABALA TANAH TITEN.

Rabu, 12 November 2014

Lela Jawa

Lela Jawa...

tobo katan peten lewo
lewo disenaren.
pae katan sudi tanah
tanah disenaren.

tobo doan go tanah sina
pae lela go ekan jawa...

puken buku sina hau
go lodo peken lewo rae.
turu tena jawa dai
go gere lupak tanah weli.

oh leworaja, go gelupak dihala
oh tanah bala, go kelaget dikuran.

erenpira go tuen,
nuan aku go balik.
ruat holot koda murin
tite tapan kirin baran...

lewotanah, lewo labala.

Jumat, 10 Oktober 2014

Catat Baik-baik Anakku...

Hanya orang yang amnesia (hilang ingatan) yang lupa dengan masa lalunya (sejarahnya). Kita kembali dan hadir disini untuk MELAWAN LUPA. Mencoba mengembalikan ingatan kita yang rada kabur atau sengaja dikaburkan oleh rezim dan zaman yang sarat tipu daya. Kita beriktikad untuk menyusun kembali mozaik kisah asal kita yang tercecer entah di mana kini.

SATU HAL YANG PASTI, KEBENARAN SEJARAH AKAN BANGKIT DAN BERBICARA MESKI LAMA TERKUBUR DALAM LAPISAN WAKTU YANG KITA SEBUT MASA LALU ITU. CATAT BAIK-BAIK INI ANAKKU....!!

Salam lewo diken tanah sare. Labala tanah raja oyok golo...

~HM~

Sabtu, 06 September 2014

Labala, Apa Kabarmu? **

Labala, Apa Kabarmu? **

Apakah kita saling merindu? Entahlah! Meski kadang menyiksa, kerinduan itu pasti ada. Tapi seberapa besar kadarnya, aku tak tahu. Lebih tepatnya tak tahu mengukur kadar kerinduan itu. Toh bagiku, rindu adalah semacam alamat rumah untuk berkirim surat cinta.

Aku meninggalkanmu beserta segenap kenangan masa kanak-kanakku yang indah. Meninggalkan tanjung leworaja-mu dengan debur ombak yang tak pernah berhenti, nyanyian burung camar yang tak ingin berlalu, juga ingatan masa kanakku yang tak hendak pergi.

Labala, adakah kau rasakan rindu yang bermekaran seperti bunga jambu mente yang lagi musim di situ? Adakah riang dihatimu seperti dulu saat bersama di musim panen jagung dan kacang tanah? Oya, sekarang harga jambu mente dan kacang tanah sekilo berapa? Cukupkah untuk beli bensin buat amak-amak kami pergi melaut kalau malam hari? Cukupkah untuk ongkos naik ojek inak-inak kami untuk pergi jual ikan keliling?

Labala, Kita berpisah sudah begitu lama bukan? Kuharap, meski rentang waktu yang cukup lama sejak kita pisah, semoga kau tak lekas melupakanku, sebagaimana aku yang juga enggan untuk melupakan. Bagaimana mungkin aku bisa melupakanmu? Sebahagian besar masa kanak-kanakku kuhabiskan dengan menjelajahi jengkal demi jengkal Pantai Lukiono-mu, menyelami hasta demi hasta Laut Sawumu, menelusuri langkah demi langkah Bukit Wolo, padang sabana Lewo Lolon dan pohon-pohon kelapamu. Bagiku melupakan berarti menyingkirkan. Dari hati, juga ingatan. Dan aku tak hendak melupakan, apa lagi menyingkirkan. Sungguh…

Labala, kuharap kau masih seperti dulu…

Masihkah kau secantik dan seanggun dulu? Atau jangan-jangan barangkali banyak hal yang sudah membuatmu berubah? Jika iya, betapa sedihnya aku. Tak bisa lagi kunikmati pantaimu yang landai, lautmu yang jernih, juga aneka warna-warni terumbu karanngmu, ikan-ikanmu yang berseliwerang, juga keramahtamahan masyarakatmu yang memagang teguh adat dan budaya ata Lamaholot..

Aku dengar selentingan kabar angin; listrik PLN sudah masuk, jalanan pun sudah diaspal, signal handphoe pun sudah bisa dijangkau. Bahkan akses internet pun sudah bisa. Ah aku bayangkan nulu moe geha kae (kau memang benar-benar sudah berubah). Dulu kampung kecil, kini sudah menjadi kota kecil. Dan sebagai anak kampung, paling tidak ada kemajuan yang bisa kubanggakan darimu di hadapan teman-teman kuliahku di kota yang sombong itu.

Ada sedikit kebanggaan memang mendengar kabar kemajuanmu, namun sekaligus terselip rasa was-was. Jangan-jangan Labala yang sekarang, sama sekali berbeda dengan Labala yang kukenal masa kecilku dulu. Masa kecilku dulu, Labala yang kukenal dengan segenap keramahan adat dan budaya lamaholotnya. Dulu, Labala kukenal sebagai Tanah watan nen gelara, tanah timu te pelate. Tanah orang-orang yang diberkati, kampung orang-orang pemberani.

Labala yang kukenal masa kanak adalah lewotanah (tanah air) yang menjunjung tinggi budaya pohe (menolong) dan gemohin (gotong royong) sebagai warisan luhur para leluhur. Aku mengenalmu sebagai kampung di mana masyarkatnya yang bermukim di pesisir selatan Kabupaten Lembata, yaitu masyarakat yang menjunjung tinggi nilai-nilai berkah-keramah (kehormatan dan harga diri), juga sebagai Ata Watan (Muslim Pesisir) yang taat dan fanatik.

Labala yang kukenal tempo itu, meski musim kemaraunya lebih panjang dari pada musim hujan, bahkan kerap nyaris gagal panen karena hujan yang lama tak kunjung turun, tapi nuba-nara-nya (putra-putrinya) tak pernah semaput karena kehausan, dan mati karena kelaparan. Makanan selalu ada meski tak harus secukupnya, air selalu ada meski tak selalu memuaskan.

Orang-orang sederhana ini hidup dengan keyakinan teguh, Tuan Lera wulan – Alap Tanah ekan , yaitu Sang Pemilik langit dan bumi mate mete noi, tilu mete denga, Maha melihat dan maha mendengar. Dia tak akan pernah mencampakkan, apa lagi meninggalkan orang-orang bersahaja ini. Ah dulu, siapa yang tak kenal dengan orang-orang ini? Tapi kini, masih adakah yang mengenal orang-orang ini?

Labala, lela onek sama sudi…

Bersabarlah dan tunggu aku pulang. Jangan tidak. Dan kenang-kenanglah aku yang pernah begitu mengakrabimu. Kenang-kenanglah kami ana-opu-mu di tanah rantau ini. Kame nuba murin-nara baran, mai doan seba ilmu, balik ola gelekat lewotanah suku ekan.

Makassar, Agustus 2014

Ana opu-mu

Ttd

Hamba Moehammad
---------------------------
**Dari Kumpulan Cerpenku “Surat Rindu Untuk Lewotanah”.

Kiden Moon amam Hena

heku heku, aku mala heku
heku tani mayan, mayan mala heku...
kiden moon, moon ama hena,

ina tani mayan, mayan mala heku....

niku hae, hae aem rae-rae,
amam rae, rae lango tani.
amam rae rae lango tani,
mayan tani mayan, mayan ole ina....

roi mio, mio mabe jadi. nala hikon sama, sama beto sina.
loran mio mio nabelao, mio jadi ata, ata jawa-jawa

tani tani, tani ake tani, tani anam hode, hode ake tani.
kiden tobo, moon amam hena. inam anam hode ake tani.

lone lone, lone dibelone, lone lou lebo, ana dibelone
turu peten, peten bae ina, ina lou lebo, lebo dibelone.

bera bali, bali bera bali, moe pana peten, peten bera bali.
peten ama mete tua lere, lere pana peten, peten bera bali.
peten ama mete tua lere, lere pana peten, peten bera bali.

lolon lolo, lolon lewa lolo, lolo amam tani kopo lewa lolo.
bayan ama nala bangku take, take amam tani, tobo lewa lolon.

nebak nero pana liko lapak hala, sudi mo kepae, anam ata nimun.

heku heku, heku mala heku, heku tani mayan, mayan mala heku..

goe nimun, nimun lango take, take tani mayan, mayan mala heku.
pana tobo dei ata lewo, lewo dore nasib, nasib punya mau.
 dore nasib, nasib punya mau, lau susah tode, tode hode liwo..

ia lewo, lewo ia lewo. lodo pana peten, nani ia lewo,
peten ama ia lango tobo, tobo pana peten, peten  bera balik..

Sabtu, 24 Mei 2014

Fungsionalisme Adat dan Budaya Orang Labala


Fungsionalisme Norma, Adat, Tradisi dan Institusi Orang Labala*

Oleh Hamba Moehammad
Prolog

Sebelum membahas “Fungsionalisme Norma, Adat, Tradisi dan Institusi Orang Labala” ada baiknya perlu diketahui pengertian dan tujuan dari fungsionalisme dalam menjelaskan norma, adat, tradisi dan institusi suatu komunitas masyarakat.

Fungsionalisme adalah sebuah sudut pandang luas dalam sosiologi dan antropologi yang berupaya menafsirkan masyarakat sebagai sebuah struktur dengan bagian-bagian yang saling berhubungan. Fungsionalisme menafsirkan masyarakat secara keseluruhan dalam hal fungsi dari elemen-elemen konstituennya; terutama norma, adat, tradisi dan institusi.

Teori fungsionalisme adalah suatu bangunan teori yang paling besar pengaruhnya dalam ilmu sosial di abad sekarang. Tokoh-tokoh yang pertama kali mencetuskan fungsional yaitu August Comte, Emile Durkheim dan Herbet Spencer.

Dalam arti paling mendasar, Fungsionalisme menekankan "upaya untuk menghubungkan, sebisa mungkin, dengan setiap fitur, adat, atau praktik, dampaknya terhadap berfungsinya suatu sistem yang stabil dan kohesif." Bagi Talcott Parsons, "fungsionalisme mendeskripsikan suatu tahap tertentu dalam pengembangan metodologis ilmu sosial, bukan sebuah mazhab pemikiran.

Emile Durkheim mengungkapkan bahwa masyarakat adalah sebuah kesatuan dimana di dalamnya terdapat bagian – bagian yang dibedakan. Bagian-bagian dari sistem tersebut mempunyai fungsi masing – masing yang membuat sistem menjadi seimbang. Bagian tersebut saling interdependensi satu sama lain dan fungsional, sehingga jika ada yang tidak berfungsi maka akan merusak keseimbangan sistem.

Setelah mengetahui pengertian dan tujuan fungsionalisme di atas, maka dapat dijabarkan bagaimana fungsionalisme berlaku dalam tatanan Norma, Adat, Tradisi dan Institusi Orang Labala.

Dalam adat dan tradisi orang Labala, Norma dan institusi sangat dipengaruhi oleh kultur keselarasan antara Tuhan, alam dan kehidupan manusia itu sendiri. Dalam tatanan kehidupan social, orang labala sangat mendasari nilai-nilai budaya  luhur alam. Maka tak heran dalam pemberian nama suku, gelar kesukuan,  dan jabatan dalam organisasi social dinisbatkan dengan kehidupan alam  di darat, laut dan udara dimana ketiga unsure ini mewakili sisi kehidupan manusia yang terdiri dari unsur Ape (api) yang diwakili oleh oleh hal-hal yang ada di darat, unsure lera-wulan (langit dan udarah) yang diwakili oleh hal-hal yang ada di angkasa dan wai (air dan laut).

Dari ketiga unsure di atas,  maka unsure Lera Wulan (udara dan langit) merupakan unsure terpenting dalam siklus kehidupan orang labala. Orang labala sering mengaitkan unsure Ama-Lera-wulan dengan konsep keyakinan tentang sang pencipta (Tuhan) sedangkan dua unsure lainnya yaitu Ape dan Wai sebagai Ina-Tanah Ekan (ibu pertiwi) tempat tuhan menyemai benih-benih kehidupan. Maka orang Labala mengenal dua istilah sacral yang sangat dijunjung tinggi yaitu Ama (Bapak) dan Ina (Ibu). Kedua kata ini juga merupakan representasi hakikat dari perikehidupan manusia yaitu kehidupan ukhrawi dan duniawi, dan menangkup makna ruhani dan jasmani, juga menjelaskan mana yang baqa (selamanya/kekal) dan mana yang fana (sebentar/sementara).

Kedua kata ini Ama (Bapak) dan Ina (Ibu) di kemudian hari memiliki pengaruh tidak hanya dalam tatanan adat dan tradisi tapi juga dalam tatanan politik pemerintahan dan agama. Dalam tatanan politik pemerintahan, orang labala mengenal istilah “Peten Ama” dan “Peten Ina”  dimana “peten ama” merupakan konsep atau gagasan tentang sebuah system konstitusi yang telah disepakati, dan dijalankan oleh Ama Belen atau pejabat public terhadap aspirasi Ribu-ratu (masyarakat). Sedangkan peten ina merupakan amalan atau realisasi dari konsep yang dijalankan oleh sebuah institusi seperti dewan atau pemerintah.

Dalam konteks agama, orang labala mengenal istilah Ama/ime belen (Imam besar)  atau pemimpin di mesjid yang berfungsi sebagai pemimpin ritual keagamaan seperti shalat, berdoa dan ritual lain yang menjadi tugas dan kewenangan laki-laki dan ina wae yang berfungsi sebagai makmum yang bertugas memberi dukungan dan mempersiapkan kelengkapan untuk ibadah.

Sedangkan dalam konteks adat, orang labala mengenal istilah Ama kaka/kaka bapa yang bertugas sebagai juru bicara dalam forum adat ketika membicarakan warisan/pusaka, dan weli/belis (mahar/maskawin) dari pihak laki-laki dan perempuan yang hendak menikahkan anak-anaknya dan ama kebele/kebelen (kepaala suku/adat). Orang Labala juga mengenal istila ina belen/ kwae belen yang menjalankan fungsi sebagai pihak yang memberi masukan terkait hak dan kewajiban masing-masing pihak yang harus ditunaikan dalam prosesi adat.

Dengan melihat stuktur ini, sebenarnya  di labala  sudah jauh hari orang sudah mengenal konsep kesetaraan gender antara laki-laki dan perempuan dalam pelaksanaan tugas yang menjadi tanggungjawabnya. Hanya saja orang Labala lebih memaknainya sebatas sebagai pembagian tugas atau peran yang sudah menjadi fitrah sebagai manusia yang di takdirkan sebagai laki-laki atau perempuan tanpa ada pretense bahwa laki-laki lebih berkuasa dari pada perempuan atau sebaliknya. Meski tak bisa dipungkiri, dalam semua perkara fungsionalisme adat dan budaya di labala, peran laki-laki memang lebih dominan namun tidak sertamerta kemudian dijustifikasi bahwa laki-laki lebih superior, tapi lagi-lagi kembali kepada tugas dan fungsi masing-masing yang sudah menjadi fitrah.

Trias Poliica vs Likak Telo Dalam Tradisi Orang Labala

Layaknya dalam struktur pemerintahan sebuah Negara moderen, dari zaman nenek moyang, orang labala sudah mengenal tiga lembaga/ institusi yang masing-masing memiliki peran tersendiri dalam mengatur tata kehidupan masyarakatnya. Kalau dalam system pemerintahan sebuah Negara modern mengenal istilah trias politica (tiga lembaga politik) yang meliputi lembaga Eksekutif (pemerintah/kepala Negara) sebagai pelaksana konstitusi, Judikatif (hakim/jaksa/polisi) sebagai penjaga/penegak konstitusi, dan Legislatif (dewan/majelis) sebagai pembuat/perancang konstitusi, maka orang labala sejak zaman dahulu kala sudah mengenal system yang lebih dahulu canggih ini. Orang labala mengenal system ini dengan istilah Likak Telo (tiga mata tungku).

Ketiga lembaga dalam system tatanan social orang labala yang dikenal dengan Likak Telo (tiga mata tungku) ini terdiri dari Kapitan Pulo Pegawe lema (Raja dan bawahannya) yang diwakli oleh keturunan raja dan kapitan dari klan/suku Mayeli, Paa Kae (Empat Dewan adat) yang diwakili oleh empat kepala agama dari klan/ Labala, Lamarongan, lamasoap, Lamalewar,  dan Buto kae (Pemutus Sanksi adat) diwakili oleh dari masing-masing semua klan/suku yang ada di labala.
Dalam konteks agama,  orang labala memiliki pembagian tugas dan kewenangan dalam hal yang berkaitan dengan ritual keagamaan. Adapun pembagian kewenangan dalam bidang agama meliputi; sebagai Imam mesjid, pembaca doa dalam ritual kemaatian, pernikahan, khitanan maulid nabi, juga imam hari raya besar menjadi tugas Klan/suku mayeli. Sebagai Khatib pada perayaan hari besar agama islam seperti hari jumat, hari raya idul fitri dan idul adha menjadi tugas dari klan/suku labala dan Lamasoap. Menjadi Bilal di mesjid dan hari raya besar merupakan tugas dari suku Lamalewar. Ketiga fungsi keagamaan ini kemudian diselaraskan dengan nilai-nilai fundamental dalam agama islam yang menjadi keyakinan orang labala yaitu, Iman, Islam, dan Ihsan.

Sementara dalam konteks adat dan tradisi local, orang Labala mengenal tiga fungsi Likak Telo yang masing-masing menjalankan peran dalam tata laksana adat yang diwakili oleh tiga suku besar yang memiliki uma-lango Koko-bale (rumah adat besar) sebagai tempat pelaksanaan upacara dan ritual adat. Fungsi pertama dijalankan oleh komunitas Taran Wanan/Tere Wene (Tanduk Kanan) yang di kepalai oleh kepala klan/suku Labala dan membawahi beberapa klan/suku kecil di bawahnya dengan menjalankan fungsinya sebagai Lewo tanah alap (tuan tanah) yang mengurus duli-pali (tanah pusaka), wai mata (sumber air), ewe nawu (ternak). Fungsi yang kedua dijalankan oleh komunitas taran nekin / Tare heke (tanduk kiri) yang di kepalai oleh klan/suku Mayeli dan membawahi beberapa klan/suku kecil di bawahnya dengan menjalankan fungsi sebagai kapitan pulo pegawe lema (pemerintahan) yang mengurus maslahat ribu-ratu (Masyarakat banyak). Fungsi yang ketiga dijalankan oleh komunitas Ata bereket (panglima perang) yang menjalankan fungsi sebagai pengatur siasat perang dan damai dengan musuh rae mare (di darat) dan lau lewa (di laut).

Dari semua tatanan kehidupan orang labala sebagai fungsionalisme social budaya yang meliputi Norma, Adat, Tradisi dan Institusi Orang Labala, masing-masing klan/suku menjalankan fungsinya dengan harmonis. Bila struktur ini berjalan timpang, maka orang labala memiliki keyakinan, akan ada nalan/nale (dosa) yang hanya bisa diampuni bila yang melakukan pelanggaran terlebih dahilu menerima konsekuensi berupa sanksi menjalankan ritual doko nele (pertobatan) dengan melakukan ritual-ritual seperti, tula ree atau pau oma untuk kembali menjalin hubungan silaturahmi mistis dengan kekuatan-kekuatan yang diyakini memiliki daya magis.

Hingga kini, fungsionalisme adat dan budaya oleh orang labala masih dijalankan dengan itikat (niat baik) untuk menjaga keselarasan hidup dalam prinsip likak telo (tiga mata tungku) sehingga hubungan baik dengan Ama lera wulan (udara/langit) sebagai representasi unsure keilahian/ketuhanan, unsure ina tanah ekan (sesame manusia dan alam sekitar) tetap terjaga, terpelihara dan pada gilirannya akan diwariskan kepada generasi penerus.

Meski semakin kuatnya pengaruh ajaran dan keyakinan agama islam terhadap orang labala, namun itu tak membuat mereka serta merta kemudian meninggalkan system Likak Telo (tiga mata tungku) yang merupakan warisan berhargaa luhur para leluhur. Warisan ini bagi orang labala dianggap memiliki keunggulan tersendiri dalam mengatur tata kehidupan mereka yang tidak dimiliki oleh system apapun dan dari manapun di luar system adat yang dimiliki oleh orang labala sendiri. Dalam konteks  fungsionalisme adat dan budaya, orang labala memang memiliki sisi fanatisme tersendiri karena system ini dianggap paling ideal sebagai katalisator (membendung) pengaruh luar yang merusak dan menjaga persatuan dan kebersamaan orang labala dari kemungkinan perpecahan kelompok dan golongan. Selain itu system Likak Telo ini hingga kini masih dianggap paling cocok dengan karakter atau tabiat orang labala yang cenderung susah diatur karena system lain dianggap tidak cukup dan cakap untuk mewakili aspirasi orang labala yang majemuk yang terdiri dari berbagai macam klan/suku.

Sebagai tambahan informasi, di labala ada sekitar 27 ragam klan/suku yang masing-masing dibagi ke dalaam tiga komunitas besar yakni komunitas Taran Wanan, Komunitas  Taran Nekin, dan  komunitas Ata Bereket.

A)     Komunitas Taran Wanan yang memiliki rumah adat senera terdiri dari:
1.                   Klan/suku Labala yang meliputi; Labala Resiona, Labala Kreoiona, Labala Enga Duaona, Labala Enga Daiona, Labala Rumaona, Labala Keleppa Woho.
2.                   Klan /suku Lamasoak, Lamalerek, Lewokro, Duamudaj, Lebao, Bakiona, Lewohajon, Keloboona, Kahawolor.

B)     Komunitas Taran Nekin yang memiliki rumah adat di bale adat terdiri dari:
1.      Klan/ suku Mayeli Atulolon, Mayeli Atulangun, Lamarongan Retapukan, Lamarongan Tobipukan, Lamabelawa, Teroona, Kelepak, Lamabain, Leragere.
C)    Komunitas Ata Bereket yang memiliki rumah adat di koko lamalewa terdiri dari:
1.      Klan/suku Lamalewar, Laweona, Lamaleak.

Dari tiga komunitas besar di atas, masing masing klan/suku memiliki rumah adat dan kepala suku sendiri-sendiri dan akan berkumpul di rumah adat masing-masing  bila ada musim upacara adat seperti ritual Tuno wata rekke (Bakar jagung makan) ketika musim panen tiba. Dan bila Kebelen (kepala klan/suku) di komunitasnya mengadakan ritual maakan jagung di rumah adat besar di Senera, atau Bale Adat, atau, di Koko Lamalewa, maka masing-masing klan/ suku dalam komunitas itu akan bahu membahu melakukan tradisi gelekat suku lama (mengabdi di suku besar) untuk bersama menjalankan ritual tahunan itu. Dalam prosesi makan jagung kepala Kebelen (klan/suku) dalam komunitas tersebut, masing masing klan/suku dalam komunitas tersebut menjalankan fungsionalisasi adat sesuai dengan tupoksinya masing-masing.

Sebagaimana biasanya, untuk ritual makan jagung di rumah adat ini dimulai dari masing-masing klan/suku kecil yang ada dalam komunitas tersebut, setelah itu baru giliran Kebele dalam komunitas itu mengadakan ritual makan jagung yang dihadiri semua klan/suku yang ada dalam komunitas.

Di Labala, ritual makan jagung yang paling terakhir dilakukan setiap tahun sekaligus menjadi penutup pesta tahunan tersebut adalah Kebele dari komunitas Taran Wanan dari klan/suku Labala sebagai Lewotanah Alap (Tuan Tanah). Karena sebagai upacara adat puncak, maka pelaksanaannya dilakukan lebih rumit dengan tambahan beberapa ritual sebelum acara makan jagung, yaitu ledu liwo (ritual menangkap ikan) di pantai Tanjung Leworaja, dan Gute tapo-muko gere wua (mengambil buah kelapa, pisang dan pinang) mata air di Lewohajon(**)

*Tulisan di atas penulis sajikan hanya secara garis besar (umum) dan mungkin saja terjadi kekeliruan di sana-sini. Untuk lebih rinci mengenai fungionalisme tata organisasi social budaya orang Labala, silahkan masing-masing yang berkepentingan melakukan kajian/riset yang lebih mendalam secara langsung.

Minggu, 18 Mei 2014

Te Dore Adat e Agama?

Te Dore Adat e Agama?

Oleh Hamba Moehammad

Rae lewo titen Labala, nolo adat ne agama pana hama. Adat ne agama pe, mapen (berpasangan). Ata nolohe mei mi, “uwe ne mate” atau “naweke ne keme”. Murin pi, ata bai sama persaja adat hala mure. Rae mei mi, adat pe syirik.

"Adat nete pele liko lewotanah. Ara adat maso Iman tite bisa hala. Adat ne agama pe laren geha, hama hala," Ustadz hae mei nempe. Kode denga hena.

Ara kalau te peten pai tekka, inga mela-mela, sebenar ne’e pe tite di lewotanah Labala, memang moripe te lango rua: Tuhom Allah SWT longu (mesingki) ne Lango Berui ( Rumah adat).
”Adat titen pelate-pelate,” Inak-amak tenna-naot tite,. Ina-ama, kaka-ari taku-taku kalo re dore adat hala. Re taku ake re nalana.

Tite Labala pe ata watene (muslim). Ara te masih persaja adat e take? Kalau tite lebih persaja ne agama pe, Iman tite kuat-meggeta kepaera take? Kalau mau jujur, iman titen masih lodo-gere.
Nolo nene bele titen pehe adat kua-kua, penue koda mei kirin, padahal rae pe juga ime bele, Hamba Allah. Re suna-sadah ata, ara  adat rae pekke hala..

Tite ne iman titen, basa kitab suci, sembe’ di mesingki rema lero, denga Ustadz koda kirin. Ara tite ana-opu lewotana nimun, adat lewotanah tite jagaro. Pe kalaumi te pehe adat, adat tula te jadi musyrik?

"Moe dore adat e kitab suci? “ Hae dehe goe nempe. Ara go mairo, go dore  ruaha, adat ne kitab suci. Kitab suci nepe koda-kirin Allah ne’en, adat nepe koda-kirin nene belen nolohe. Tite tetap dore, hormat Agama, ara ake sampe gelupak urus adat. Te morip pe, musti seimbang dunia-akherat, adat ne agama.

Murin pi, tai doan seba ilmu (Sekolah/kuliah) di ata lewo. Sekolah pi Makassar, lau jawa, lali Sumatra-kalimantan, ara tite toi adat hala mure. Hae mei mi, mio gerana murine sekolah dibelola, jadi pejabat. Jadi ata belen balik pe harus tula contoh. Harus berani!

“Berani hapus adat?” goe dehe nempe.

"Bukan hapus adat rae lewo. Tite tetap dore adat nene belen, adat nepe tite dore sampe tite mataje. Tite nipe lewotanah ene-opu, tite ana lewo nimun. Tapi goe pikir adat nepe dikurangi, disederhanakan. Ake sampe bertentangan dengan agama,” Nae tape goe nempe. 

Ara goe mairo, adat pe bai bertentangan ne agama hala. Tite atadike yang tularo taro nalana. Kalau tite dorero larane, adat ne agama pe mapene (pasangan serasi). Tou dunia, pe waike akherate. Salam lewo diken tana sare! (**)

HIPPALL Makassar dan Kebersamaam Kita


HIPPALL Makassar dan Kebersamaam Kita
Oleh HambaMoehammad
Melupakan, berarti menyingkirkan, kata orang.Dari hati juga, juga ingatan. karena itu, kadang kita lebih memilih untuk terus mengenang. Tak peduli raga yang semakin tua renta, pikiran yang semakin suntuk, ingatan yang semakin pikun, mata yang semakin merabun. Tak hirau waktu yang dengan beringas menggoda kita untuk lupa.
Dengan mengingat, kita tak ingin kehilangan kenangan, dan dengan mengenang, kita tak hendak menghapus masa yang telah menjadi lalu...
Dan kau masih ingat, Sayang? Sore itu di pantai tanjung Bayang-Kota Daeng, ketika usai pesta kembang api dan gemuruh petasan menyambut tahun baru 1 Januari 2014 semalaman. Kita, yah kita anak anak-anak perantauan Labala yang jauh dari lewotanah ini merindukan hadirnya sebuah rumah kebersamaan. Rumah yang kemudian sama kita beri nama Himpunan Pemuda Pelajar Labala Lembata (HIPPALL)- Makassar,
Orang lain boleh lupa, Sayang, tapi kita tidak. Karena-Sekali lagi-melupakan berarti menyingkirkan segenap kenangan dari hati dan ingatan. Orang lain boleh alpa, Cintaku, tapi kita tidak. Bagi kita, kebersamaan adalah sebuah keniscayaan yang mesti diperjuangkan dan diwujudkan. Dan di rumah HIPPALL Makassar inilah kita memulai merajut kebersamaan.
Kini kita telah membangun rumah itu. Meski tanpa perabot yang mewah, namun kita membangunnya dengan semangat kebersamaan sebagai "Ana opu Ata Labala". Dan kita semua berjanji akan menjaganya dari badai yang mungkin saja akan membuatnya porak poranda. Kita akan merawatnya dari panas yang bisa saja membuatnya lekang dan hujan yang bisa membuatnya lapuk.
Yah, kita Sayang. Kita akan menjaganya dengan sgenap rasa cinta yang ada....
Semoga dengan rumah baru ini, kita sama belajar tentang perikehidupan, kita sama belajar untuk menyiapkan senjata yang ampuh untuk menghadapi aneka coba dan uji di luar sana. Lenih dari itu, di rumah inilah kita belajar untuk menyatukan hati, cita-cita untuk berbakti kepada Lewotanah. Bukankah ada dikatakan, "Te koda tou, kirin ehan. Te soga nare lewo, te biti tana maken?"
Akhirnya, tak ada yang akan bisa kita wariskan, selain rumah pusaka ini. Meski tak semegah istanah dan tak semewah hotel, tapi dari rumah inilah kita mulai belajar untuk saling mengenal satu sama lain dengan segenaplebih dan kurangnya.
Tak ada pengalama yang lebih mengesankan, tak ada kisah yang paling indah yang bisa kita ceritakan kepada anak cucu kelak, selain cerita kenangan pahit-manis saat bersama di rumah HIPPALL Makassar ini.(**)
Makassar-Pondok Hijo, 28 April 2014
ketika hujan rintik hanya sebntar,
dan sumur di samping pondok hanya diam bisu...