BLOG PILIHAN GENERASI LABALA

SELAMAT DATANG DI BLOG INI. TAAN ONEK TOU SOGA NARAN LEWOTANAH. LABALA TANAH TITEN.

Kamis, 07 Januari 2016

Ata Lamaholot (Orang Lamaholot)

Ata Lamaholot
(Orang Lamaholot)

Apakah kau orang lamaholot? Kalau iya, apakah kau tahu apa itu Lamaholot? Lamaholot itu etnis/suku bangsa yg mendiami kepulauan solor dan alor.

Orang lamaholot adalah atadiken (ata= manusia, diken= baik/berbudi luhur) yg beradat, berbudaya, dan bertradisi Lamaholot.

Dalam bahasa Labala, Lamaholot kata "Lama= piring/mangkok" yang berarti tempat/wadah menaruh makanan dan minuman dan "Holot" yang berarti selalu penuh/berisi. Lamaholot adalah tanah atau negeri yg penuh/melimpah dengan berkat.

Setiap suku/klan dibedakan atas "Lama". Orang labala menyebutnya "Ume Lama", artinya jatah/atau bagian yang telah ditentukan bagi setiap suku/klan.

Ume Lama merupakan istilah adat yang digunakan mengungkapkan garis batas kewenangan  atau tugas bagi setiap suku/klan.

Antara satu suku/klan dengan suku/klan yang lain tak boleh mengambil alih atau merampas dan menguasai jatah atau kewenangan suku/klan yang lain.

Holot artinya, tak pernah putus, selalu sambung menyambung. Holot juga berarti terus berjalan tak pernah berhenti atau seperti air yang terus mengalir tak pernah kering. Bila ada tali atau ikatan yang terputus, maka harus di Holot atau disambung.

Lamaholot  berarti "Lama= tanah/kampung" dan "Holot= terus melangkah/mengalir" yang berarti tanah air tumpah darah yg mistis religius..

Lamaholot (usu asa timu matan lera gere), adalah asal usul peradaban religius, peradaban ketuhanan yg melangit, mengangkasa.

Lamaholot (holot dike tapan sare), adalah asal mula peradaban kemanusiaan yg merayap dan membumi.

Orang lamaholot adalah tipikal manusia yang tahu diri, tahu tugas dan kewenangan. Dia tak akan pernah berpikir licik dan berniat busuk untuk merampas atau memiliki sesuatu yang bukan haknya. Dia tak akan mengklaim milik orang lain sebagai miliknya.

Orang lamaholot adalah manusia yang tahu diri, bahwa dirinya adalah Atadike (ata= manusia/orang, dike= baik/berbudi )

Orang lamaholot adalah manusia yang dinamis, yang selalu berpikir dan berbuat sesuatu yang baik dan bermanfaat. Karena orang lamaholot memiliki filosofi hidup "gelekat lewo, gewayan Tanah" yang artinya, berbakti kepada Tuhan dan menjadi pelayan kepada sesama manusia.

Orang lamaholot berwatak "solor/solar (matahari)" yang kehadirannya senantiasa menjadi terang jalan dan kebenaran. seperti matahari,  kehadirannya selalu memberi manfaat.

Orang lamaholot adalah Atadike (manusia paripurna/insan kamil), budi dike akal sare (berbudi luhur, berpikiran lurus). Pantang Ata Lamaholot untuk berlaku amoral (bejat) dan berpikir licik kepada sesamanya, apa lagi kepada Tuhan.

Yah orang lamaholot adalah personifikasi kemuliaan yang melangit dan  kebajikan yang membudi; Lewotanah= lera wulan-tanah ekan= Alape= Allah= Sang Pemilik.

Orang lamaholot adalah manusia pilihan, manusia yang diberkati, manusia yang darinya asal-usul peradaban manusia.

Maka, berbanggalah menjadi orang Lamaholot, jangan tidak. Karena jika kau tak punya kebanggaan, lalu siapa lagi yg mau membanggakan adat leluhurmu, tradisi dan budaya nenek moyangmu? yah siapa lagi?

~AtaLabala~

Mushaf al-Qur'an Tertua di Asia Tenggara.

Islam di Kabupaten Alor-NTT

Mushaf al-Qur'an Tertua di Asia Tenggara.

Mushaf al-Qur'an ini ditulis diatas lembaran kulit kayu, dibawa dari kerajaan ternate-Tidore oleh seorang penyebar Agama Islam bernama Lan Gogo ke Alor pada tahun 1500 M (abad 15 M).
Sebelum kedatangan Bangsa Portugis ke Nusantara pada abad 16 M, yang disususl dengan bangsa Belanda pada pertengahan abad 16 M, Agama Islam sudah tersebar di Kepulauan Alor, Yang terkenal dengan Bandar GALIAU WATANG LEMA dan kepulauan solor (Lembata, Adonara, solor, Flores Timur daratan) yang terkenal dengan Bandar SOLOR WATANG LEMA...
~AtaLabala~~

Minggu, 01 November 2015

Ata Dike Ata Sare


Ata artinya orang. Ata adalah sebutan atau julukan kehormatan bagi makhluk yang bernama manusia. Hanya manusia yang disebut dengan panggilan ata. Ata dike artinya orang yang baik atau manusia yang baik. Ata sare artinya manusia terhormat dan melimpah dengan kehormatan.

Orang Labala mengenal ungkapan, dike-dike sare-sare yang berarti yang sesungguh-sungguhnya atau yang sebenar-benarnya, tanpa ada kebohongan atau pemutarbalikan fakta. Onem dike sare artinya hati yang tulus lagi ikhlas. Ketulusan yang lahir dari lubuk hati manusia yang berperikemanusiaan.

Manusia adalah ata budi dike, yang jauh dari niat licik. Manusia adalah ata akal sare yang jauh dari segala macam kepentingan pribadi dan akal picik. Manusia memiliki kecerdasan sebagai hamba yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan. Dan manusia juga memiliki kecerdasan sebagai insan dengan moral yang luhur kepada dirinya dan kepada sesamanya.

Manusia adalah ata budi adat yang menjunjung tinggi adab dan bukan malah berperilaku biadab kepada sesamanya. Manusia adalah ata akal agama yang senantiasa merasa selalu dalam pengawasan Tuhan dan bukan malah memilih durhaka kepada Tuhannya.

Pada manusia terhimpun segenap kebaikan. Meski manusia sebagai ata dike ata sare, namun pada momen tertentu ketika lalai, ketika terlalu silau dengan kehidupan duniawi, maka dirinya bisa jatuh tergelincir, bisa terjerumus karena tak kuat menahan goda.

Namun Tuhan Maha Pengampun. Kepada manusia, Dia menyediakan fasilitas taubat. Dan kepada- Nya manusia memohon ampun, leta dike ampon sare. Pada momen ini, manusia sebagai ata dike ata sare, berjanji untuk tak mengulangi kesalahan yang sama. (**)

Rabu, 12 November 2014

Lela Jawa

Lela Jawa...

tobo katan peten lewo
lewo disenaren.
pae katan sudi tanah
tanah disenaren.

tobo doan go tanah sina
pae lela go ekan jawa...

puken buku sina hau
go lodo peken lewo rae.
turu tena jawa dai
go gere lupak tanah weli.

oh leworaja, go gelupak dihala
oh tanah bala, go kelaget dikuran.

erenpira go tuen,
nuan aku go balik.
ruat holot koda murin
tite tapan kirin baran...

lewotanah, lewo labala.

Jumat, 10 Oktober 2014

Catat Baik-baik Anakku...

Hanya orang yang amnesia (hilang ingatan) yang lupa dengan masa lalunya (sejarahnya). Kita kembali dan hadir disini untuk MELAWAN LUPA. Mencoba mengembalikan ingatan kita yang rada kabur atau sengaja dikaburkan oleh rezim dan zaman yang sarat tipu daya. Kita beriktikad untuk menyusun kembali mozaik kisah asal kita yang tercecer entah di mana kini.

SATU HAL YANG PASTI, KEBENARAN SEJARAH AKAN BANGKIT DAN BERBICARA MESKI LAMA TERKUBUR DALAM LAPISAN WAKTU YANG KITA SEBUT MASA LALU ITU. CATAT BAIK-BAIK INI ANAKKU....!!

Salam lewo diken tanah sare. Labala tanah raja oyok golo...

~HM~

Sabtu, 06 September 2014

Labala, Apa Kabarmu? **

Labala, Apa Kabarmu? **

Apakah kita saling merindu? Entahlah! Meski kadang menyiksa, kerinduan itu pasti ada. Tapi seberapa besar kadarnya, aku tak tahu. Lebih tepatnya tak tahu mengukur kadar kerinduan itu. Toh bagiku, rindu adalah semacam alamat rumah untuk berkirim surat cinta.

Aku meninggalkanmu beserta segenap kenangan masa kanak-kanakku yang indah. Meninggalkan tanjung leworaja-mu dengan debur ombak yang tak pernah berhenti, nyanyian burung camar yang tak ingin berlalu, juga ingatan masa kanakku yang tak hendak pergi.

Labala, adakah kau rasakan rindu yang bermekaran seperti bunga jambu mente yang lagi musim di situ? Adakah riang dihatimu seperti dulu saat bersama di musim panen jagung dan kacang tanah? Oya, sekarang harga jambu mente dan kacang tanah sekilo berapa? Cukupkah untuk beli bensin buat amak-amak kami pergi melaut kalau malam hari? Cukupkah untuk ongkos naik ojek inak-inak kami untuk pergi jual ikan keliling?

Labala, Kita berpisah sudah begitu lama bukan? Kuharap, meski rentang waktu yang cukup lama sejak kita pisah, semoga kau tak lekas melupakanku, sebagaimana aku yang juga enggan untuk melupakan. Bagaimana mungkin aku bisa melupakanmu? Sebahagian besar masa kanak-kanakku kuhabiskan dengan menjelajahi jengkal demi jengkal Pantai Lukiono-mu, menyelami hasta demi hasta Laut Sawumu, menelusuri langkah demi langkah Bukit Wolo, padang sabana Lewo Lolon dan pohon-pohon kelapamu. Bagiku melupakan berarti menyingkirkan. Dari hati, juga ingatan. Dan aku tak hendak melupakan, apa lagi menyingkirkan. Sungguh…

Labala, kuharap kau masih seperti dulu…

Masihkah kau secantik dan seanggun dulu? Atau jangan-jangan barangkali banyak hal yang sudah membuatmu berubah? Jika iya, betapa sedihnya aku. Tak bisa lagi kunikmati pantaimu yang landai, lautmu yang jernih, juga aneka warna-warni terumbu karanngmu, ikan-ikanmu yang berseliwerang, juga keramahtamahan masyarakatmu yang memagang teguh adat dan budaya ata Lamaholot..

Aku dengar selentingan kabar angin; listrik PLN sudah masuk, jalanan pun sudah diaspal, signal handphoe pun sudah bisa dijangkau. Bahkan akses internet pun sudah bisa. Ah aku bayangkan nulu moe geha kae (kau memang benar-benar sudah berubah). Dulu kampung kecil, kini sudah menjadi kota kecil. Dan sebagai anak kampung, paling tidak ada kemajuan yang bisa kubanggakan darimu di hadapan teman-teman kuliahku di kota yang sombong itu.

Ada sedikit kebanggaan memang mendengar kabar kemajuanmu, namun sekaligus terselip rasa was-was. Jangan-jangan Labala yang sekarang, sama sekali berbeda dengan Labala yang kukenal masa kecilku dulu. Masa kecilku dulu, Labala yang kukenal dengan segenap keramahan adat dan budaya lamaholotnya. Dulu, Labala kukenal sebagai Tanah watan nen gelara, tanah timu te pelate. Tanah orang-orang yang diberkati, kampung orang-orang pemberani.

Labala yang kukenal masa kanak adalah lewotanah (tanah air) yang menjunjung tinggi budaya pohe (menolong) dan gemohin (gotong royong) sebagai warisan luhur para leluhur. Aku mengenalmu sebagai kampung di mana masyarkatnya yang bermukim di pesisir selatan Kabupaten Lembata, yaitu masyarakat yang menjunjung tinggi nilai-nilai berkah-keramah (kehormatan dan harga diri), juga sebagai Ata Watan (Muslim Pesisir) yang taat dan fanatik.

Labala yang kukenal tempo itu, meski musim kemaraunya lebih panjang dari pada musim hujan, bahkan kerap nyaris gagal panen karena hujan yang lama tak kunjung turun, tapi nuba-nara-nya (putra-putrinya) tak pernah semaput karena kehausan, dan mati karena kelaparan. Makanan selalu ada meski tak harus secukupnya, air selalu ada meski tak selalu memuaskan.

Orang-orang sederhana ini hidup dengan keyakinan teguh, Tuan Lera wulan – Alap Tanah ekan , yaitu Sang Pemilik langit dan bumi mate mete noi, tilu mete denga, Maha melihat dan maha mendengar. Dia tak akan pernah mencampakkan, apa lagi meninggalkan orang-orang bersahaja ini. Ah dulu, siapa yang tak kenal dengan orang-orang ini? Tapi kini, masih adakah yang mengenal orang-orang ini?

Labala, lela onek sama sudi…

Bersabarlah dan tunggu aku pulang. Jangan tidak. Dan kenang-kenanglah aku yang pernah begitu mengakrabimu. Kenang-kenanglah kami ana-opu-mu di tanah rantau ini. Kame nuba murin-nara baran, mai doan seba ilmu, balik ola gelekat lewotanah suku ekan.

Makassar, Agustus 2014

Ana opu-mu

Ttd

Hamba Moehammad
---------------------------
**Dari Kumpulan Cerpenku “Surat Rindu Untuk Lewotanah”.

Kiden Moon amam Hena

heku heku, aku mala heku
heku tani mayan, mayan mala heku...
kiden moon, moon ama hena,

ina tani mayan, mayan mala heku....

niku hae, hae aem rae-rae,
amam rae, rae lango tani.
amam rae rae lango tani,
mayan tani mayan, mayan ole ina....

roi mio, mio mabe jadi. nala hikon sama, sama beto sina.
loran mio mio nabelao, mio jadi ata, ata jawa-jawa

tani tani, tani ake tani, tani anam hode, hode ake tani.
kiden tobo, moon amam hena. inam anam hode ake tani.

lone lone, lone dibelone, lone lou lebo, ana dibelone
turu peten, peten bae ina, ina lou lebo, lebo dibelone.

bera bali, bali bera bali, moe pana peten, peten bera bali.
peten ama mete tua lere, lere pana peten, peten bera bali.
peten ama mete tua lere, lere pana peten, peten bera bali.

lolon lolo, lolon lewa lolo, lolo amam tani kopo lewa lolo.
bayan ama nala bangku take, take amam tani, tobo lewa lolon.

nebak nero pana liko lapak hala, sudi mo kepae, anam ata nimun.

heku heku, heku mala heku, heku tani mayan, mayan mala heku..

goe nimun, nimun lango take, take tani mayan, mayan mala heku.
pana tobo dei ata lewo, lewo dore nasib, nasib punya mau.
 dore nasib, nasib punya mau, lau susah tode, tode hode liwo..

ia lewo, lewo ia lewo. lodo pana peten, nani ia lewo,
peten ama ia lango tobo, tobo pana peten, peten  bera balik..