Oleh Muhammad Baran
Tite ata ribu ratu lewotanah Labala, ake me onem kuran. Nuan sare hau maje tite kae, musim alus dai geppa tite kae. Pemilu (Pemilihan Umum) 2014 pi daheka. Te peten pile pepa labala ene-opu tou. Ne gerewa teti lango bela Peten Ina. Te inga sogaro ne gelekka lewo titen.
Tite ata ribu-ratu Tanah Leworaja, pai te onek tou, kirin ehe taan soga nare lewotanah dibelola. Tite pile ake ne nalan bei. Te Soga ama Hadi Abdullah gere jadi ata bele. Ne soga lewotanah narene, ne biti lewo Labala makene.
Partai Persatuan Pembangunan (PPP) nabe nuru tite lare, te gute berkah lewo labala, te hode keramah Leworaja. Gere ne tali rae, te gerie lewo, te gewaje tanah titen.
Ribu-ratu Tanah Labala, ake me onem kuran. Nuan sare hau maje tite kae, musim alus dai geppa tite dikae hena. Te peten pile Ama Hadi Abdullah.
Pai te koda-kirin tou. Pile Titen Tou, Nimun Tou, Lewo Tou, Nomor Tou. Pile-tada Ama Hadi Abdullah.
Ina e, ama e...
Rema pi ditukan kae,
ekan pi dilelaja kae.
tobo mehak kode pikir susah
peten lewo, pe maje-honik wekik mela hena take?
sudi tanah, pe toi-tonga wekik sare hena take?
Lewotanah Labala...
susah nabe tuasa oh ina e...
payah nabe tagala oh ama e...
mio peten kame le take?
nuba-nara baran be tawa gere
ana-opu murin be bela dei
kode kame take ware
kiri kame kuran hena
Ina e, ama e...
puke ale ge, mio onem ditou hala?
dari ale ge, mio kirin diehan kuran?
pai te mupu limak
pai te dei hama-hama
ake uno-geni wekik
ake tebekke-geridi wekik
ake te mehak pana laran
Kame nuba murin onem nabe susah,
peten inak-amak rae lewo tobo.
Ina e, ama e...
Aran pira kai koi mio?
kame doan mio dilela.
koda pulo kirin lema kae.
kabe tena ate ne nette nai geppa mio?
rema pi ditukana kae,
ekan pi dilelaja kae.
kame anam moe tobo didoan-doan
aek ne lau ole wura dikae
peten lewo sudi tanah
lewotanah Labala titen (**)
Hanya orang Amnesia (gila) yang lupa dengan masa lalunya.... Labala, tanah goen. Turu remma kodr turen koi moe. Labala, Goe Hungen Baat Teti Kotek.
BLOG PILIHAN GENERASI LABALA
SELAMAT DATANG DI BLOG INI. TAAN ONEK TOU SOGA NARAN LEWOTANAH. LABALA TANAH TITEN.
Minggu, 19 Januari 2014
HIPPALL-Makassar: Rumah Bagi Pelajar Labala
Memulai tulisan ini, sejenak kami menghimpun segenap kekuatan untuk menahan haru dan emosi yang bercampur. Membendung airmata suka cita yang membuncah. Juga kerinduan akan kebersamaan sesama anak-anak lewotanah Labala yang ada di makassar.
Betapa tidak, cita-cita untuk merangkul segenap elemen pemuda dan pelajar Labala yang ada di Makassar akhirnya terwujud. Meski tak ada jaminan perjalanan organisasi Himpunan Pemuda Pelajar Labala Lembata (HIPPAL)-Makassar yang sudah sekian lama vakum ini akan tetap eksis.
Harapan akan selalu ada....
Bagi kami, meski agak berlebihan atau mungkin kedengaran lebay, HIPPAL-Makassar adalah rumah bagi segenap ana-opu labala yang tengah merantau, entah untuk menuntut ilmu, maupun untuk bekerja demi masa depan.
"Mai doan seba wata pirin, wua kili tou, malu lola rua tebako kenolok, balik me geleka lewotanah," demikian kata-kata petuah yang senantiasa terngiang. Seakan petuah ini menyiratkan komitmen bagi segenap generasi muda Labala yang ada di mana pun terkhusus di makassar untuk menunjukkan bakti kepada tanah kelahiran nun jauh di sana. Lewotanah yang terpisah lautan yang luas itu.
Selain panggilan pengabdian (gelekat lewotanah), kebersamaan sebagai ana-opu yang merasa senasib dan sepenangguan di tanah orang, menjadikan kami memiliki cita-cita yang nyaris sama yaitu: Soga Nare Lewo tanah.
Harapan kami (dan tentu saja kita semua yang merasa memiliki Labala) adalah agar generasi muda memiliki kebanggaan sebaga ata Labala. Labala. Yah Labala yang memiliki nama besar dan sejarah yang panjang dari pelarian Lepan-batan hingga ke Tanjung Lewonuba.
Kami ingin mengembalikan berkah Leworaja dan Keramah Tanah Labala sebagaimana warisan nenek moyang kami.
Perjalanan kami ini masih panjang. Semoga atas ridha Allah SWT dan restu Lewotanah Labala, menjadikan kami generasi yang tegar dalam melayari bahtera HIPPAL-Makassar ini dan diberi kekuatan untuk menggagahi setiap badai cobaan dan gelombang comohan yang mungkin saja akan kami lewati.
"Ina e, ama e, tutu kame koda mellehe, marin kame kirin aluse. Supaja kame mette me pana lare, me gawe ewan ia ata lewotanah..."
Akhirnya, sayup-sayup dari kejauhan sebuah lagu yang dinyanyikan oleh adik Muhammad Arba (Aco) mengembalikan kerinduan masa kanak-kanak tentang lewotanah labala yang nun jauh di sana itu...
Berikut ini petikan syairnya:
Muda-mudi lewotanah pai puput taan tou.
soga naran lewotanah, tanah labala.
soga leik lodo pana lau tasik tukan doan,
singgah ia tanah Daeng, kota Makassar.
Pana doan ata tana,
lewobala doan kae...
herun nasib musim medo,
lewo bala gelupak hala...
Bala labot lamarongan...
Lewotanah labala sare.
Lewo tanah tapin balik,
balik geniku lewo rae. (**)
Betapa tidak, cita-cita untuk merangkul segenap elemen pemuda dan pelajar Labala yang ada di Makassar akhirnya terwujud. Meski tak ada jaminan perjalanan organisasi Himpunan Pemuda Pelajar Labala Lembata (HIPPAL)-Makassar yang sudah sekian lama vakum ini akan tetap eksis.
Harapan akan selalu ada....
Bagi kami, meski agak berlebihan atau mungkin kedengaran lebay, HIPPAL-Makassar adalah rumah bagi segenap ana-opu labala yang tengah merantau, entah untuk menuntut ilmu, maupun untuk bekerja demi masa depan.
"Mai doan seba wata pirin, wua kili tou, malu lola rua tebako kenolok, balik me geleka lewotanah," demikian kata-kata petuah yang senantiasa terngiang. Seakan petuah ini menyiratkan komitmen bagi segenap generasi muda Labala yang ada di mana pun terkhusus di makassar untuk menunjukkan bakti kepada tanah kelahiran nun jauh di sana. Lewotanah yang terpisah lautan yang luas itu.
Selain panggilan pengabdian (gelekat lewotanah), kebersamaan sebagai ana-opu yang merasa senasib dan sepenangguan di tanah orang, menjadikan kami memiliki cita-cita yang nyaris sama yaitu: Soga Nare Lewo tanah.
Harapan kami (dan tentu saja kita semua yang merasa memiliki Labala) adalah agar generasi muda memiliki kebanggaan sebaga ata Labala. Labala. Yah Labala yang memiliki nama besar dan sejarah yang panjang dari pelarian Lepan-batan hingga ke Tanjung Lewonuba.
Kami ingin mengembalikan berkah Leworaja dan Keramah Tanah Labala sebagaimana warisan nenek moyang kami.
Perjalanan kami ini masih panjang. Semoga atas ridha Allah SWT dan restu Lewotanah Labala, menjadikan kami generasi yang tegar dalam melayari bahtera HIPPAL-Makassar ini dan diberi kekuatan untuk menggagahi setiap badai cobaan dan gelombang comohan yang mungkin saja akan kami lewati.
"Ina e, ama e, tutu kame koda mellehe, marin kame kirin aluse. Supaja kame mette me pana lare, me gawe ewan ia ata lewotanah..."
Akhirnya, sayup-sayup dari kejauhan sebuah lagu yang dinyanyikan oleh adik Muhammad Arba (Aco) mengembalikan kerinduan masa kanak-kanak tentang lewotanah labala yang nun jauh di sana itu...
Berikut ini petikan syairnya:
Muda-mudi lewotanah pai puput taan tou.
soga naran lewotanah, tanah labala.
soga leik lodo pana lau tasik tukan doan,
singgah ia tanah Daeng, kota Makassar.
Pana doan ata tana,
lewobala doan kae...
herun nasib musim medo,
lewo bala gelupak hala...
Bala labot lamarongan...
Lewotanah labala sare.
Lewo tanah tapin balik,
balik geniku lewo rae. (**)
Minggu, 22 Desember 2013
Singkirkan Kepentingan Pribadi Menuju Pemilihan Legislatif (Pileg) Lembata 2014
![]() |
| Hadi Abdullah (Dok. Pribadi) |
Berdasarkan musyawarah/kesepakatan Forum Labala Bersatu (Forlab) yang diikuti masyarakat dan tokoh masyarakat labala, Forum telah memutuskan secara bulat untuk mencalonkan Bapak Hadi Abdullah sebagai calon DPRD Lembata dengan Daerah Pemilihan (Dapil) 2: Nagawutun, Wulandoni, Atadei dan Lebatukan. Bapak Hadi Abdullah maju dengan kendaraan politik Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dengan nomor urut 1.
Dengan cita-cita membangun masyarakat Nagawutun, Wulandoni, Atadei, dan Lebatukan yang lebih baik, Hadi Abdullah berkomimen membantu memajukan potensi sektor budaya dan pariwisata yang selama ini cenderung terabaikan.
Pantai Pasir putih Mingar yang elok dengan Tanjung Suba wutunnya, Tradisi menangkap ikan paus Masyarakat Lamalera, Pasar barter Wulandoni dan Labala, hingga wisata alam panas bumi di karu lewopuho.
Oleh karena itu, singkirkan aneka prasangka yang berlebihan dan tanpa dasar.
Pai tite pile atadike titen yang sudah mendapat restu Ribu-ratu Lewotanah. Mumpung kesempatan titen none kae. Tite yang masih di perantauan dan berencana balik lewo, pe te bera balik supaya te pake hak pilih tite untuk te pile atadike titen nimun tou gerewa teti gedung peten Ina (DPRD) Lembata. Kalau bai sekare hala pe, te tede sampe arapira bali mure?
Sabtu, 21 Desember 2013
Hadi Abdullah: Untuk Labala yang Lebih Baik
![]() |
| Dok Pribadi (Hadi Abdullah) |
Pemilihan Presiden (Pilpres) dan Pemilihan Legislatif (Pileg) 2014 tinggal beberapa bulan lagi. Sebagai masyarakat yang memiliki hak pilih tentu kita ingin memilih siapa yang bakal menjadi perwakilan aspirasi bagi kepentingan dan kemaslahatan kita.
Untuk pemilihan legislatif (Pileg) 2014 mendatang, Labala sebagai representasi masyarakat di selatan kabupaten Lembata, kini memiliki beberapa tokoh yang akan di proyeksikan menjadi calon Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Lembata.
Untuk Daerah Pemilihan (Dapil) 2 yang meliputi, Nagawutun, Wulandoni, Atadei dan Lebatukan, Labala mengutus salah satu putra terbaiknya sebagai anggota DPRD, yaitu Drs. Hadi Abdullah. Politisi dari Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Kabupaten Lembata ini diberi kepercayaan untuk membawa aspirasi masyarakat tiga kecamatan di Pantai selatan lembata tersebut.
Menurut Hadi Abdullah, berkomitmen dirinya untuk maju sebagai calon anggota legislatif bukan karena ambisi dan keinginan pribadi, namun demi membangun dan mensejahterahkan masyarakat di Dapil 2 Lembata. Menurutnya,selama ini pembangunan di selatan Lembata cendrung terabaikan.
Untuk itu, Lulusan Fisipol Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang ini ingin menjadikan masyarakat Labala dan sekitarnya yang kaya dengan sumber daya bahari dan sumber daya wisata dan budaya ini menjadi lebih sejahtera.
"Di wulandoni misalnya, kita punya wisata sejara dan budaya, juga wisata bahari yang bisa dieksplorasi sebagai sumber pendapatan masyarakat," ungkap Hadi Abdulla. Menurutnya, berkaca pada sejarah lembata yang kaya akan sumber daya alam dan tradisi budaya, bisa menjadikan lembata menjadi destinasi wisata.
Selain itu, masih menurut Politisi Partai Persatuan Pembangunan ini, di Dapil 2 hingga saat ini masyarakatnya masih mempertahankan adat dan tradisi luhur dan toleransi antar umat beragama yang bisa menjadi program pemerintah dalam meningkatkan pergaulan dan kesejahteraan mereka.
Masih menurut Hadi Abdullah, kekayaan adat dan tradisi tang diwariskan dari leluhur orang lamaholot sejatinya menjadi aset dalam menjalin relasi dan pergaulan tanpa membedakan agama, suku dan kepentingan antar golongan tertentu.
"Kekuatan kita adalah adat dan tradisi sehingga kita masih tetap menjalin relasi kekeluargaan. Mudah-mudahan kedepannya, masyarakat Labala dan sekitarnya lebih dewasa berpikir dan bertindak, tidak lagi hanya menjadi korban politik pihak-pihak tertentu yang sengaja mengambil keuntungan pribadi," harap Hadi Abdullah.(**)
Kamis, 19 Desember 2013
Asal Pelarian Raja Labala Dari Lepan-Batan.
Ula naga pe
jelamaan leluhur suku Mayeli Atulangun. Ada diceritakan waktu di
lepan-batan. Ada tiga orang bersaudara terdiri dari 2 orang perempuan
dan seorang laki-laki bungsu yang ditinggal pergi/mati oleh orangtua
mereka.
Suatu ketika musim kemarau yang panjang, si adik laki-laki kehausan dan minta minum air. Namun meski diberikan air, rasa haus sang adik tak pernah hilang. Akhirnya mereka membawa sang adik ke sungai dan disuru minum dengan menelungkup dan mulut terbuka agar air masuk ke dalam perutnya.
Namun lama kelamaan, sang adik berubah perlahan-lahan dimana kedua kakinya berubah menjadi ekor naga, terus sampai kebadannya berubah menjadi naga. Sebelum kepalanya berubah menjadi naga sepenuhnya, dia meminta kepada kedua kakaknya untuk pulang karena dia bukan lagi manusia. Pada saat sang adik berubah total menjadi seekor naga, kedua kakak perempuannya pun menangis tersedu dan kembali kerumahnya.
Sang naga kemudian menjadi penunggu sungai. Sampai pada suatu ketika anak-anak Raja pergi bermain dan mandi di sungai. Ketika pulang, ada salah satu diantara anak raja yang diambil (dimakan) oleh naga. Hal ini terjadi beberapa kali ketika anak-anak raja pergi mandi di sungai.
Akhirnya sang raja mengutus salah seorang abdi kerajaan untuk menjaga anak-anaknya saat mandi dan ditugasi meneliti makhluk apa gerangan yang telah mengambil (memakan) anak-anaknya.
Alangkah terkejutnya si abdi kerajaan ketika mengetahui kalau yang memangsa salah satu anaknya adalah seekor Ular Naga yang bersembunyi didalam pohon (Uho Puke). Sang abdi raja pun kembali dan melaporkan kejadian yang sebenarnya.
Setelah mendapatkan laporan yang sebenarnya, raja mengutus pasukannya untuk membunuh naga tersebut dengan memancing sang naga keluar dari persembunyiannya. Sebelum membunuh naga, raja pasukan raja telah menyiapkan makanan sebagai pancingan berupa bubur wette (lupa nama bahasa indonesianya), beberapa tandang pisang dan beberapa jenis makanan pancungan lainnya.
Setelah sang naga terpancing dengan makanan pancingan para pasukan raja telah siap sedia dengan tombak besi yang dipanaskan. Saat sang naga membuka mulut, para pasukan raja menikamnya dengan tempuling besi yang masih panas membara. Perkelahian antara pasukan raja dan naga terus berlanjut hingga malam. Akhirnya sang naga lemas dan pinsang. Para pasukan raja pun kembali karena menyangka sang naga telah mati.
Keesokan harinya tak disangka, bencana menimpa raja dan ribu-ratunya. Air laut naik dan nyaris menenggelamkan kampung sang raja. Maka raja memerintahkan ribu-ratunya membuat perahu sebagai langkah antisipasi jika kampung sang raja benar-benar tertelan air bah. Dan ternyata dugaan sang raja benar adanya. Segera setelah perehu selesai dibuat dan semua warga masuk perahu, air laut pun menenggelamkan kampung sang raja. Akhirnya Raja dan ribu-ratunya terdampar di tanjung lewonuba (leworaja) dan melakukan perjanjian dengan penduduk asli di tanjung Lewonuba yaitu Dewa kake dan Dewa Ari untuk sama-sama bermukim di tanjung lewonuba. (**)
Masih ada kelanjutan cerita sang raja dalam perjalanan berlayar bersama ribu-ratunya hingga perahu yang digunakan kemudian berubah menjadi batu. Sebenarnya dalam perjalanan ke Lewonuba, ada dua perahu yaitu perahu raja dan perahu suku Lamabai Leragere yang bersandar di kemeruwutun. Selanjutnya, silahkan mencari tahu sendiri...
Maaf kalau ada yang kurang dalam cerita ini. Terima kasih...
Suatu ketika musim kemarau yang panjang, si adik laki-laki kehausan dan minta minum air. Namun meski diberikan air, rasa haus sang adik tak pernah hilang. Akhirnya mereka membawa sang adik ke sungai dan disuru minum dengan menelungkup dan mulut terbuka agar air masuk ke dalam perutnya.
Namun lama kelamaan, sang adik berubah perlahan-lahan dimana kedua kakinya berubah menjadi ekor naga, terus sampai kebadannya berubah menjadi naga. Sebelum kepalanya berubah menjadi naga sepenuhnya, dia meminta kepada kedua kakaknya untuk pulang karena dia bukan lagi manusia. Pada saat sang adik berubah total menjadi seekor naga, kedua kakak perempuannya pun menangis tersedu dan kembali kerumahnya.
Sang naga kemudian menjadi penunggu sungai. Sampai pada suatu ketika anak-anak Raja pergi bermain dan mandi di sungai. Ketika pulang, ada salah satu diantara anak raja yang diambil (dimakan) oleh naga. Hal ini terjadi beberapa kali ketika anak-anak raja pergi mandi di sungai.
Akhirnya sang raja mengutus salah seorang abdi kerajaan untuk menjaga anak-anaknya saat mandi dan ditugasi meneliti makhluk apa gerangan yang telah mengambil (memakan) anak-anaknya.
Alangkah terkejutnya si abdi kerajaan ketika mengetahui kalau yang memangsa salah satu anaknya adalah seekor Ular Naga yang bersembunyi didalam pohon (Uho Puke). Sang abdi raja pun kembali dan melaporkan kejadian yang sebenarnya.
Setelah mendapatkan laporan yang sebenarnya, raja mengutus pasukannya untuk membunuh naga tersebut dengan memancing sang naga keluar dari persembunyiannya. Sebelum membunuh naga, raja pasukan raja telah menyiapkan makanan sebagai pancingan berupa bubur wette (lupa nama bahasa indonesianya), beberapa tandang pisang dan beberapa jenis makanan pancungan lainnya.
Setelah sang naga terpancing dengan makanan pancingan para pasukan raja telah siap sedia dengan tombak besi yang dipanaskan. Saat sang naga membuka mulut, para pasukan raja menikamnya dengan tempuling besi yang masih panas membara. Perkelahian antara pasukan raja dan naga terus berlanjut hingga malam. Akhirnya sang naga lemas dan pinsang. Para pasukan raja pun kembali karena menyangka sang naga telah mati.
Keesokan harinya tak disangka, bencana menimpa raja dan ribu-ratunya. Air laut naik dan nyaris menenggelamkan kampung sang raja. Maka raja memerintahkan ribu-ratunya membuat perahu sebagai langkah antisipasi jika kampung sang raja benar-benar tertelan air bah. Dan ternyata dugaan sang raja benar adanya. Segera setelah perehu selesai dibuat dan semua warga masuk perahu, air laut pun menenggelamkan kampung sang raja. Akhirnya Raja dan ribu-ratunya terdampar di tanjung lewonuba (leworaja) dan melakukan perjanjian dengan penduduk asli di tanjung Lewonuba yaitu Dewa kake dan Dewa Ari untuk sama-sama bermukim di tanjung lewonuba. (**)
Masih ada kelanjutan cerita sang raja dalam perjalanan berlayar bersama ribu-ratunya hingga perahu yang digunakan kemudian berubah menjadi batu. Sebenarnya dalam perjalanan ke Lewonuba, ada dua perahu yaitu perahu raja dan perahu suku Lamabai Leragere yang bersandar di kemeruwutun. Selanjutnya, silahkan mencari tahu sendiri...
Maaf kalau ada yang kurang dalam cerita ini. Terima kasih...
Sejarah Munaseli dan Solor Watan Lema
Solor Watan Lema
Oleh Hamba Moehammad
Malam minggu kumpul bersama adik-adik di sekretariat Himpinan Pemuda Pelajar Labala Lembata (HIPPALL)-Makassar. Diiringi lagu daerah yang berjudul "Solor Watan Lema". Lagu berbahasa lamaholot ini dinyanyikan oleh pemyanyi asal Lamahala bernama Saff Atasoge. Lagu ini menceritakan kebesaran 5 kerajaan di pesisir kepulauan solor yang kemudian hari terkenal dengan "Solor Watan Lema" atau 5 kerajaan islam.
(Nuan nowin kapek lelu. Gajah Mada pakan marin: lamaholot nolo nai, solor watan lema kae)
Lagu ini mengetengahkan sedikit fakta, bahwa menurut buku Negara Kartagama yang ditulis oleh Mpu Prapanca, bahwa pada zaman kerajaan Majapahit yang dipimpin oleh Raja Hayam Wuruk dan Maha Patih Gajah Mada yang bercita-cita mempersatikan nusantara, pernah mengutus pasukannya Ke Munaseli (pusat kersajaan solor watan lema tempo dulu)
Menurut catatan tersebut, Solor watan lema dahulu dikenal dengan "Galiau Watang Lema" dengan ibu kota kerajaan adalah Munaseli yang kemudian hilang (tenggelam) karena air bah. Munaseli menurut cerita sejarah orang lamaholot adalah kerajaan yang berkuasa di pulau Lepan-Batan
Dalam perjalanan misi mempertsatukan nusantara, para pasukan kerajaan Maja Pahit ini membawa serta sebuah prasasti yaitu ukiran titah raja Hayam Wuruk. Titah raja tersebut menggunakan tulisan jawa kuno (kawi) yang dipahat pada sebuah bilah kayu jati dan diserahkan kepada raja yang berkuasa di Munaseli saat itu.
Pasca terjadinya air bah (tsunami) sekitar tahun 1600 Masehi yang menenggelamkan munaseli, Raja dan rakyatnya kemudian terpencar sepanjang kepulauan solor dan membentuk kerajaan baru yang kemudian dikenal dengan "Solor watan lema".
(Gaha gapen teti moto wutun, Bala lau lamaronga. Pae wenge honik dahan, ola lau hayon haka)
Yang jadi pertanyaan hingga saat ini adalah siapakah raja yang berkuasa pada saat pasukan maja pahit menginjakkan kaki di Munaseli dan menyerahkan prasasti titah raja Hayam Wuruk yang bertuliskan aksara jawa kuno di atas kayu jati tersebut?
Saya tak punya data yang bisa mendukung argumentasi saya, namun hingga kini ada bukti sejarah yang dimiliki oleh Raja Labala yang kiranya bisa mengungkap tabir sejara pulau munaseli yang tenggelam itu yaitu keberadaan prasasti kayu jati bertuliskan aksara jawa kuno (kawi) yang hingga kini tersimpan di rumah adat Raja Mayeli yang merupakan raja yang menurut cerita, memimpin pelarian dari munaseli.
(Dahan getan date lali watan pao, Tuso gasuk lala labot. Gawe gere lali terong au koli, lema gahan raan ehan, solor watan lema kae)
Asal Muasal Lepan-Batan
Bagi masyarakat di kepulauan solor yang meliputi Flores Timur, Solor, Adonara, Lembata, Alor dan kepulauan pantar, mendengar kata "Munaseli" tidaklah asing di telinga.
Menurut riwayat, Munaseli merupakan sebuah daratan/pulau jaman dulu yang terletak persis di antara pulau lembata di sebelah barat, Pulau alor di sebelah tenggara, dan kepulauan pantar di sebelah selatan. Pulau ini kemudian hilang/tenggelam setelah disapu sunami dahsyat.
Diduga Munaseli merupakan asal muasal dari daratan/pulau lepan-batan di masa lampau yang tenggelam itu. Pasca bencana air bah tersebut, terjadi eksodus besar-besaran orang lepan-batan yang kemudian tersebar di Pulau alor. pulau lembata, adonara, dan flores timur daratan.
Bukti keberadaan Munaseli sebagai Lepan-batan yang hilang itu hingga kini bisa dilihat dengan masih tersisanya artefak masa lalu berupa bangunan bawah laut di perairan alor dan kepulauan pantar.
Di labala masyarakat mengenal legenda/cerita "manu sili goko (Munaseli)", seekor ayam sakti yang bisa mendatangkan apa saja sesuai permintaan. Cerita "manus sili goko (Munaseli)" ini erat kaitannya dengan cerita rakyat Munaseli (lepan-batan) tempo doeloe.
Pada masa lalu, kepulauan alor dan pantar yang berpusat di munaseli merupakan daerah penghasil biji kenari dan Solor yang berpusat di Lohayon dan Lamakera merupakan daerah penghasil kayu cendana sehingga menjadi bagian dari jalur perdagangan nusantara.
Bahkan catatan tertua Negarakertagama karya Mpu Prapanca (abad ke-14) telah menyebut alor dan solor. Tentara majapahit dikabarkan mengirim pasukan ke daerah alor yang bernama Munaseli.
Dalam buku Negarakertagama itu disebutkan, ada wilayah "Galiau Watan Lema" atau daerah pesisir pantai kepulauan.Galiau terdiri atas lima kerajaan yaitu Kui dan Bunga Bali dan Alor serta Blagar, Pandau dan Baranua di pantar.
Jika ini benar, maka sejarah Munaseli sedikit banyak ada berhubungan dengan orang labala yang menurut cerita turun-temurun berasal dari Munaseli (lepan-batan). Ini terbukti ketika pelarian dari lepan-batan, Raja Mayeli saat itu membawa serta prasasti kayu jati yang bertuliskan huruf palawa (jawa kuno).
Alor juga disebutkan dalam catatan perjalanan keliling dunia kapal spanyol yang ditulis oleh antonio pigaffera pada tanggal 8-25 Januari 1522.
Juga jejak peradaban Solor yang populer pada abad ke-14 sampai 16 dengan hutan cendana. Keharuman cendana membuat Portugis dan Belanda berebut pulau kecil yang berbukit-bukit itu.
Solor tercatat dalam sejarah petualangan kolonial Portugis dan Belanda. Ada benteng Fort Hendrikus (Benteng Lohayong), reruntuhan seminari Katolik pertama di Indonesia, tapi ada juga dua kerajaan Islam terkenal di pulau yang panjangnya kira-kira 60 km, lebar 15-20 km itu, yakni Lohayong dan Lamakera.
Sampai sekarang nelayan Lamakera, bersama Lamalera di Pulau Lembata, punya tradisi berburu ikan paus di Laut Sawu. Menombak mamalia laut itu dengan alat yang sangat sederhana. (**)
Diolah dari sumber:
-Kliping Koran Nasional Harian Kompas (Edisi Jumat, 13 Desember 2013)
-Hurek.blogspot.com
Oleh Hamba Moehammad
Malam minggu kumpul bersama adik-adik di sekretariat Himpinan Pemuda Pelajar Labala Lembata (HIPPALL)-Makassar. Diiringi lagu daerah yang berjudul "Solor Watan Lema". Lagu berbahasa lamaholot ini dinyanyikan oleh pemyanyi asal Lamahala bernama Saff Atasoge. Lagu ini menceritakan kebesaran 5 kerajaan di pesisir kepulauan solor yang kemudian hari terkenal dengan "Solor Watan Lema" atau 5 kerajaan islam.
(Nuan nowin kapek lelu. Gajah Mada pakan marin: lamaholot nolo nai, solor watan lema kae)
Lagu ini mengetengahkan sedikit fakta, bahwa menurut buku Negara Kartagama yang ditulis oleh Mpu Prapanca, bahwa pada zaman kerajaan Majapahit yang dipimpin oleh Raja Hayam Wuruk dan Maha Patih Gajah Mada yang bercita-cita mempersatikan nusantara, pernah mengutus pasukannya Ke Munaseli (pusat kersajaan solor watan lema tempo dulu)
Menurut catatan tersebut, Solor watan lema dahulu dikenal dengan "Galiau Watang Lema" dengan ibu kota kerajaan adalah Munaseli yang kemudian hilang (tenggelam) karena air bah. Munaseli menurut cerita sejarah orang lamaholot adalah kerajaan yang berkuasa di pulau Lepan-Batan
Dalam perjalanan misi mempertsatukan nusantara, para pasukan kerajaan Maja Pahit ini membawa serta sebuah prasasti yaitu ukiran titah raja Hayam Wuruk. Titah raja tersebut menggunakan tulisan jawa kuno (kawi) yang dipahat pada sebuah bilah kayu jati dan diserahkan kepada raja yang berkuasa di Munaseli saat itu.
Pasca terjadinya air bah (tsunami) sekitar tahun 1600 Masehi yang menenggelamkan munaseli, Raja dan rakyatnya kemudian terpencar sepanjang kepulauan solor dan membentuk kerajaan baru yang kemudian dikenal dengan "Solor watan lema".
(Gaha gapen teti moto wutun, Bala lau lamaronga. Pae wenge honik dahan, ola lau hayon haka)
Yang jadi pertanyaan hingga saat ini adalah siapakah raja yang berkuasa pada saat pasukan maja pahit menginjakkan kaki di Munaseli dan menyerahkan prasasti titah raja Hayam Wuruk yang bertuliskan aksara jawa kuno di atas kayu jati tersebut?
Saya tak punya data yang bisa mendukung argumentasi saya, namun hingga kini ada bukti sejarah yang dimiliki oleh Raja Labala yang kiranya bisa mengungkap tabir sejara pulau munaseli yang tenggelam itu yaitu keberadaan prasasti kayu jati bertuliskan aksara jawa kuno (kawi) yang hingga kini tersimpan di rumah adat Raja Mayeli yang merupakan raja yang menurut cerita, memimpin pelarian dari munaseli.
(Dahan getan date lali watan pao, Tuso gasuk lala labot. Gawe gere lali terong au koli, lema gahan raan ehan, solor watan lema kae)
Asal Muasal Lepan-Batan
Bagi masyarakat di kepulauan solor yang meliputi Flores Timur, Solor, Adonara, Lembata, Alor dan kepulauan pantar, mendengar kata "Munaseli" tidaklah asing di telinga.
Menurut riwayat, Munaseli merupakan sebuah daratan/pulau jaman dulu yang terletak persis di antara pulau lembata di sebelah barat, Pulau alor di sebelah tenggara, dan kepulauan pantar di sebelah selatan. Pulau ini kemudian hilang/tenggelam setelah disapu sunami dahsyat.
Diduga Munaseli merupakan asal muasal dari daratan/pulau lepan-batan di masa lampau yang tenggelam itu. Pasca bencana air bah tersebut, terjadi eksodus besar-besaran orang lepan-batan yang kemudian tersebar di Pulau alor. pulau lembata, adonara, dan flores timur daratan.
Bukti keberadaan Munaseli sebagai Lepan-batan yang hilang itu hingga kini bisa dilihat dengan masih tersisanya artefak masa lalu berupa bangunan bawah laut di perairan alor dan kepulauan pantar.
Di labala masyarakat mengenal legenda/cerita "manu sili goko (Munaseli)", seekor ayam sakti yang bisa mendatangkan apa saja sesuai permintaan. Cerita "manus sili goko (Munaseli)" ini erat kaitannya dengan cerita rakyat Munaseli (lepan-batan) tempo doeloe.
Pada masa lalu, kepulauan alor dan pantar yang berpusat di munaseli merupakan daerah penghasil biji kenari dan Solor yang berpusat di Lohayon dan Lamakera merupakan daerah penghasil kayu cendana sehingga menjadi bagian dari jalur perdagangan nusantara.
Bahkan catatan tertua Negarakertagama karya Mpu Prapanca (abad ke-14) telah menyebut alor dan solor. Tentara majapahit dikabarkan mengirim pasukan ke daerah alor yang bernama Munaseli.
Dalam buku Negarakertagama itu disebutkan, ada wilayah "Galiau Watan Lema" atau daerah pesisir pantai kepulauan.Galiau terdiri atas lima kerajaan yaitu Kui dan Bunga Bali dan Alor serta Blagar, Pandau dan Baranua di pantar.
Jika ini benar, maka sejarah Munaseli sedikit banyak ada berhubungan dengan orang labala yang menurut cerita turun-temurun berasal dari Munaseli (lepan-batan). Ini terbukti ketika pelarian dari lepan-batan, Raja Mayeli saat itu membawa serta prasasti kayu jati yang bertuliskan huruf palawa (jawa kuno).
Alor juga disebutkan dalam catatan perjalanan keliling dunia kapal spanyol yang ditulis oleh antonio pigaffera pada tanggal 8-25 Januari 1522.
Juga jejak peradaban Solor yang populer pada abad ke-14 sampai 16 dengan hutan cendana. Keharuman cendana membuat Portugis dan Belanda berebut pulau kecil yang berbukit-bukit itu.
Solor tercatat dalam sejarah petualangan kolonial Portugis dan Belanda. Ada benteng Fort Hendrikus (Benteng Lohayong), reruntuhan seminari Katolik pertama di Indonesia, tapi ada juga dua kerajaan Islam terkenal di pulau yang panjangnya kira-kira 60 km, lebar 15-20 km itu, yakni Lohayong dan Lamakera.
Sampai sekarang nelayan Lamakera, bersama Lamalera di Pulau Lembata, punya tradisi berburu ikan paus di Laut Sawu. Menombak mamalia laut itu dengan alat yang sangat sederhana. (**)
Diolah dari sumber:
-Kliping Koran Nasional Harian Kompas (Edisi Jumat, 13 Desember 2013)
-Hurek.blogspot.com
Rabu, 27 November 2013
Sejarah Labala (Silsilah Keturunan Dewa Kake dan Dewa Ari)
SILSILAH KETURUNAN DEWA KAKE DAN DEWA ARI
Prabu Semesta*
Munculnya presepsi saling klaim mengklaim tentang hak waris tanah dan batas tanah dari wato ruma, wiri lolo, tarnono, lela kewate lodo teti bote bala, puka bela gere teti wai noale, puna pawe dan lodo tuba teti wai metine (semuanya nama tempat yang menjadi tapal batas), ini yang menjadi perdebatan di dunia maya antara keturunan dari nene Rebo dan Mari (Suku enga daiona) yang mengaku sebagai keturunan asli dari Dewa Kake.
Padahal dalam sejarah Rebo, Salabaku, Mari dan Aku bala mereka berempat dalam peristiwa huru hara lepan batan menggunakan tena no laja (perahu layar) yang (keudian) terdampar di wato kebekku (tepatnya di sebelah tanjung watobua).
Ketika perahu (tena) raja mayeli dan menterinya sampai di nuba lolon (Tanjung Leworaja sekarag), sejarah mengatakan Dewa Kake dan Dewa Ari (keduanya bersaudara) sudah duluan sampai di lewo gunehe. Mendengar ada keramaian di pantai tanjung lewo Nuba Lolon, keduanya turun ke pantai untuk memastikan keadaan dan mendapati Raja Mayeli berserta ribu-ratunya. Raja Mayeli kemudian menanyakan siapa mereka dan memperkenalkan diri sebagai Dewa Kake dan dewa Ari. Raja Mayeli juga menanyakan siapa orangtua mereka dan memberitahukan kepada sang Raja bahwa mereka adalah anak dari Ina Peni dan ama/bapa Laga Doni. Raja Mayeli kemudian menanyakan keberadaan kedua orangtua mereka dan mereka memberitahukan bahwa ina Peni baru saja pergi dengan menggendong babi (pe lau nai bote ne wawehe) dan bapa Laga Doni bersama anjingnya (ne aohe).
Selanjutnya, dalam perjalan sejarah, Raja mayeli menjodohkan (papame) kedua kakak beradik yaitu Dewa Kake dan Dewa Ari dengan kedua saudarinya (bine ruaha) yang bernama Nogo Gunu dan Bulu Tewwo Lolo. Dari keturunan Dewa Kake dengan Nogo Gunu, lahirlah seorang anak laki-laki (ana kebelake tou) yang bernama Kabaresi. Sedangkan Dewa Ari dengan Bulu Tewwo Lolo, lahirlah tiga orang anak laki-laki (kebelake ata telo) yang sulung (berui) bernama Ruma, anak kedua bernama Boli Leda dan anak bungsu (tuho wutu) bernama Miku Boli Eme.
Ketika orang gunung (demo nare) datang menyerbu dan menyerang (hera garu) di lewo wuka ( mulan kera/ata kera) pembesar Mulan kera (Kebele lewo tukene) dari suku Ata Mulene dan suku Ata Keraf datang ke Nuba Lolon (tanjung Leworaja) menghadap raja mayeli dan pembesar (kebele) Dewa Kake dan Dewa Ari. Dari hasil musyawara, Raja mayeli meminta kepada kedua kakak beradik yaitu Dewa Keke dan Dewa Ari, siapa di antara keduanya yang mau berangkat untuk membawahi/memimpin (nette lewo) Lewo wuka (Mulan kera/ata keraf).
Dari hasil rembuk di antara keduanya, akhirnya keduanya bersepakat bahwa Dewa Ari yang berangkat ke lewo wuka untuk memimpin Lewo wuka. Sebagai kakak, Dewa kake memberikan beberapaa pusaka kepada Dewa Ari berupa teneke kedaje (Ikat pinggang) Bala Jawa (Gading) , Go (Gong), Sejenis sayur labu yang bila kering buahnya mengeluarkan biji-bijian yang bisa ditanam (Wulu Tria Tnalare), Nampan dari kulit penyu (Kea Kebukere), Rantai/gelang emas (Lodo Neme Gole), Sebilah kayu untuk mengangkat barang/hewan (Beleba Puka Wikile), Gulungan daun tembakau yang sudah diiris/dipotong halus (Tebako Kenolohe) dan gigi atau taring petir/guntur (Kelekka Ipe). Semua pusaka ini merupakan warisan dari lepan batan.
Setelah mendapaat restu dan memperoleh pusaka, Dewa Ari kemudian berangkat ke Lewo Wuka beserta dua anaknya yaitu Boli Leda dan Miku Boli Eme. Sementara anak sulungnya yang bernama Ruma memilih tetap menetap di lewo Nuba Lolon (Tanjung Leworaja). Ketika hendak berangkat Dewa Ari berpesan kepada anak sulungnya bahwa dirinya pergi untuk membawa/memimpin kampung (lewo Wuka) sehingga dia tak membekali anaknya dengan pusaka. Semua pusaka dibawa serta, dan yang bisa dia titip hanyalah sebuah rumah pusaka (Lango Ruma ono), tanah pusaka (Duli-pali), alat pancing yang terbuat dari kayu bambu (Benehi Bitu), dan Ude Medde (mungkin alat tenun).
Ketika pembagian jatah (mungkin jatah tugas dan kewenangan adat) atau bage ume, raja mayeli mengatakan kepada Nene Kabaresi dan Nene Ruma bahwa keduanya adalah sama-sama orang/suku labala. Maka Kabaresi menjadi pembesar (kebele) labalehe Keleppa Ono dengan anggota (nudeke) Keroi Ono, Enga Dai Ono dan Enga Dua Ono. Sedangkan Ruma sebagai pembesar (kebele) labalehe keleppa woho dan dengan anggota (nudeke) Lamasop, lewo Lere (Lerek), Kaha wolor, Kelobo Ono (Kelobon). Nudeke dalam bahasa adat lewo tanah “koto lolaka rae ota, tarene lereka rae wedda”.
Seiring berjalannya waktu, Nene Kabaresi tidak mempunyai keturunan (getto) sehingga maje Nene Heko dari kle Lebalehe Kerio Ono untuk mengambil jatah (ge ume) menggantikan Nene Kabaresi. Sedangkan Nene Ruma memiliki seorang anak laki-laki bernama Wara. Akibat adu domba yang di makari oleh Nene Hali Sele, akhirnya orang gunung (demo nare) datang menyerbu dam menyerang (herra garu) di lewo nuba lolon (Tanjung Leworaja).
Akhirnya Raja mayeli memutuskan untuk membeli tanah kepada orang Lewokoba. Setelah itu Raja dan ribu-ratunya pindah ke Tanah Lewokoba yang kemudian diberi nama labala Leddo Ono (sekarang Desa Labala Lewo Raja).
Tentang Neene Heko dan Nene Hali sele
Nene heko adalah putra dari Mari cucu dari Nene Mari (kebele yang datang dari lepan batan dan terdampar di wato kebekku). Ketika siku Kroi Ono tidak lagi memiliki keturunan (getto) Nene Rebo dan Salabaku pergi ke Pesewatu dan menggendong (bote) Mari yang merupakan cucu dari Nene Mari yang sedang duduk bermain di bawa pohon lontar/koli (tua puke) sedangkan bapaknya di atas pohon lontar sedang mengiris tuak .
Nene Rebo dan Nene Salabaku kemudian meminta izin kepada nene Mari untuk membawa cucunya yang juga bernama Mari ini ke Lewo nuba Lolon untuk mengambil jatah (ge ume) di suku Kroi Ono. Selanjutnya, Mari yang merupakan cucu dari Nene Mari mempunyai dua orang anak laki-laki sebagaii keturunannya yaitu, anak sulung (berui) bernama Heko dan anak bungsu (tuho wutu) bernama Boli Ase. Nene Heko menggantikan kebele Kabaresi di suku labalehe resi ono sedangkan Nene Boli Ase melanjutkan nudeke di Leelehe Kroi Ono.
Sedangkan tentang Nene Hali Sele, beliau berasal dari Semuki Tanah Lolon (kemungkinan daerah Udek dan sekitarnya). Beliau dibuang oleh kedua orangtuanya dalam keadaan luka karena mengidap penyakit menular yang dikhawatirkan akan menjangkiti warga lainnya. Dia kemudian di temukan masih sangat kecil (masih bocah) oleh Nene rebo dan salabaku pantai karang (kemungkinan di benapa wailolon).
Keduanya kemudian membawanya pulang, memelihara dan mengobati penyakit dan luka yang dideritanya. Dan Ketika Nene Genewa dari suku Lebalehe enga Dua Ono tak lagi memiliki keturunan atau terputus (getto), maka Nene Hali Sele kemudian di suruh mengambil jatah/bagian (ge ume) sebagai pembesar (kebele) di nudeke Enga Dua Ono.
Silakan semua membaca semoga menjadi pengetauhan bagi semua generasi labala. Goe bukan ahli sejarah tapi meluruskan sejarah yang di tulis oleh Muhammad Baran. (**)
*Prabu Semesta adalah pemilik nama akun Facebook yang menulis kisah MISTERI DI BALIK WATO KEBEKKU dan SILSILAH KETURUNAN DEWA KAKE DAN DEWA ARI Yang di publikasikan di Grup JEJAK SEJARAH LABALA yang saya kelola. Tulisan itu di publikasikan di Grup JEJAK SEJARAH LABALA pada Hari Senin, 25 November 2013.
Tulisan di atas sudah goe edit dan alih bahasakan istilah-istila adat kedalam bahasa indonesia yang baku. Meski mungkin masih jauh dari sempurna, semoga bermanfaat untuk generasi muda Labala.
Prabu Semesta*
Munculnya presepsi saling klaim mengklaim tentang hak waris tanah dan batas tanah dari wato ruma, wiri lolo, tarnono, lela kewate lodo teti bote bala, puka bela gere teti wai noale, puna pawe dan lodo tuba teti wai metine (semuanya nama tempat yang menjadi tapal batas), ini yang menjadi perdebatan di dunia maya antara keturunan dari nene Rebo dan Mari (Suku enga daiona) yang mengaku sebagai keturunan asli dari Dewa Kake.
Padahal dalam sejarah Rebo, Salabaku, Mari dan Aku bala mereka berempat dalam peristiwa huru hara lepan batan menggunakan tena no laja (perahu layar) yang (keudian) terdampar di wato kebekku (tepatnya di sebelah tanjung watobua).
Ketika perahu (tena) raja mayeli dan menterinya sampai di nuba lolon (Tanjung Leworaja sekarag), sejarah mengatakan Dewa Kake dan Dewa Ari (keduanya bersaudara) sudah duluan sampai di lewo gunehe. Mendengar ada keramaian di pantai tanjung lewo Nuba Lolon, keduanya turun ke pantai untuk memastikan keadaan dan mendapati Raja Mayeli berserta ribu-ratunya. Raja Mayeli kemudian menanyakan siapa mereka dan memperkenalkan diri sebagai Dewa Kake dan dewa Ari. Raja Mayeli juga menanyakan siapa orangtua mereka dan memberitahukan kepada sang Raja bahwa mereka adalah anak dari Ina Peni dan ama/bapa Laga Doni. Raja Mayeli kemudian menanyakan keberadaan kedua orangtua mereka dan mereka memberitahukan bahwa ina Peni baru saja pergi dengan menggendong babi (pe lau nai bote ne wawehe) dan bapa Laga Doni bersama anjingnya (ne aohe).
Selanjutnya, dalam perjalan sejarah, Raja mayeli menjodohkan (papame) kedua kakak beradik yaitu Dewa Kake dan Dewa Ari dengan kedua saudarinya (bine ruaha) yang bernama Nogo Gunu dan Bulu Tewwo Lolo. Dari keturunan Dewa Kake dengan Nogo Gunu, lahirlah seorang anak laki-laki (ana kebelake tou) yang bernama Kabaresi. Sedangkan Dewa Ari dengan Bulu Tewwo Lolo, lahirlah tiga orang anak laki-laki (kebelake ata telo) yang sulung (berui) bernama Ruma, anak kedua bernama Boli Leda dan anak bungsu (tuho wutu) bernama Miku Boli Eme.
Ketika orang gunung (demo nare) datang menyerbu dan menyerang (hera garu) di lewo wuka ( mulan kera/ata kera) pembesar Mulan kera (Kebele lewo tukene) dari suku Ata Mulene dan suku Ata Keraf datang ke Nuba Lolon (tanjung Leworaja) menghadap raja mayeli dan pembesar (kebele) Dewa Kake dan Dewa Ari. Dari hasil musyawara, Raja mayeli meminta kepada kedua kakak beradik yaitu Dewa Keke dan Dewa Ari, siapa di antara keduanya yang mau berangkat untuk membawahi/memimpin (nette lewo) Lewo wuka (Mulan kera/ata keraf).
Dari hasil rembuk di antara keduanya, akhirnya keduanya bersepakat bahwa Dewa Ari yang berangkat ke lewo wuka untuk memimpin Lewo wuka. Sebagai kakak, Dewa kake memberikan beberapaa pusaka kepada Dewa Ari berupa teneke kedaje (Ikat pinggang) Bala Jawa (Gading) , Go (Gong), Sejenis sayur labu yang bila kering buahnya mengeluarkan biji-bijian yang bisa ditanam (Wulu Tria Tnalare), Nampan dari kulit penyu (Kea Kebukere), Rantai/gelang emas (Lodo Neme Gole), Sebilah kayu untuk mengangkat barang/hewan (Beleba Puka Wikile), Gulungan daun tembakau yang sudah diiris/dipotong halus (Tebako Kenolohe) dan gigi atau taring petir/guntur (Kelekka Ipe). Semua pusaka ini merupakan warisan dari lepan batan.
Setelah mendapaat restu dan memperoleh pusaka, Dewa Ari kemudian berangkat ke Lewo Wuka beserta dua anaknya yaitu Boli Leda dan Miku Boli Eme. Sementara anak sulungnya yang bernama Ruma memilih tetap menetap di lewo Nuba Lolon (Tanjung Leworaja). Ketika hendak berangkat Dewa Ari berpesan kepada anak sulungnya bahwa dirinya pergi untuk membawa/memimpin kampung (lewo Wuka) sehingga dia tak membekali anaknya dengan pusaka. Semua pusaka dibawa serta, dan yang bisa dia titip hanyalah sebuah rumah pusaka (Lango Ruma ono), tanah pusaka (Duli-pali), alat pancing yang terbuat dari kayu bambu (Benehi Bitu), dan Ude Medde (mungkin alat tenun).
Ketika pembagian jatah (mungkin jatah tugas dan kewenangan adat) atau bage ume, raja mayeli mengatakan kepada Nene Kabaresi dan Nene Ruma bahwa keduanya adalah sama-sama orang/suku labala. Maka Kabaresi menjadi pembesar (kebele) labalehe Keleppa Ono dengan anggota (nudeke) Keroi Ono, Enga Dai Ono dan Enga Dua Ono. Sedangkan Ruma sebagai pembesar (kebele) labalehe keleppa woho dan dengan anggota (nudeke) Lamasop, lewo Lere (Lerek), Kaha wolor, Kelobo Ono (Kelobon). Nudeke dalam bahasa adat lewo tanah “koto lolaka rae ota, tarene lereka rae wedda”.
Seiring berjalannya waktu, Nene Kabaresi tidak mempunyai keturunan (getto) sehingga maje Nene Heko dari kle Lebalehe Kerio Ono untuk mengambil jatah (ge ume) menggantikan Nene Kabaresi. Sedangkan Nene Ruma memiliki seorang anak laki-laki bernama Wara. Akibat adu domba yang di makari oleh Nene Hali Sele, akhirnya orang gunung (demo nare) datang menyerbu dam menyerang (herra garu) di lewo nuba lolon (Tanjung Leworaja).
Akhirnya Raja mayeli memutuskan untuk membeli tanah kepada orang Lewokoba. Setelah itu Raja dan ribu-ratunya pindah ke Tanah Lewokoba yang kemudian diberi nama labala Leddo Ono (sekarang Desa Labala Lewo Raja).
Tentang Neene Heko dan Nene Hali sele
Nene heko adalah putra dari Mari cucu dari Nene Mari (kebele yang datang dari lepan batan dan terdampar di wato kebekku). Ketika siku Kroi Ono tidak lagi memiliki keturunan (getto) Nene Rebo dan Salabaku pergi ke Pesewatu dan menggendong (bote) Mari yang merupakan cucu dari Nene Mari yang sedang duduk bermain di bawa pohon lontar/koli (tua puke) sedangkan bapaknya di atas pohon lontar sedang mengiris tuak .
Nene Rebo dan Nene Salabaku kemudian meminta izin kepada nene Mari untuk membawa cucunya yang juga bernama Mari ini ke Lewo nuba Lolon untuk mengambil jatah (ge ume) di suku Kroi Ono. Selanjutnya, Mari yang merupakan cucu dari Nene Mari mempunyai dua orang anak laki-laki sebagaii keturunannya yaitu, anak sulung (berui) bernama Heko dan anak bungsu (tuho wutu) bernama Boli Ase. Nene Heko menggantikan kebele Kabaresi di suku labalehe resi ono sedangkan Nene Boli Ase melanjutkan nudeke di Leelehe Kroi Ono.
Sedangkan tentang Nene Hali Sele, beliau berasal dari Semuki Tanah Lolon (kemungkinan daerah Udek dan sekitarnya). Beliau dibuang oleh kedua orangtuanya dalam keadaan luka karena mengidap penyakit menular yang dikhawatirkan akan menjangkiti warga lainnya. Dia kemudian di temukan masih sangat kecil (masih bocah) oleh Nene rebo dan salabaku pantai karang (kemungkinan di benapa wailolon).
Keduanya kemudian membawanya pulang, memelihara dan mengobati penyakit dan luka yang dideritanya. Dan Ketika Nene Genewa dari suku Lebalehe enga Dua Ono tak lagi memiliki keturunan atau terputus (getto), maka Nene Hali Sele kemudian di suruh mengambil jatah/bagian (ge ume) sebagai pembesar (kebele) di nudeke Enga Dua Ono.
Silakan semua membaca semoga menjadi pengetauhan bagi semua generasi labala. Goe bukan ahli sejarah tapi meluruskan sejarah yang di tulis oleh Muhammad Baran. (**)
*Prabu Semesta adalah pemilik nama akun Facebook yang menulis kisah MISTERI DI BALIK WATO KEBEKKU dan SILSILAH KETURUNAN DEWA KAKE DAN DEWA ARI Yang di publikasikan di Grup JEJAK SEJARAH LABALA yang saya kelola. Tulisan itu di publikasikan di Grup JEJAK SEJARAH LABALA pada Hari Senin, 25 November 2013.
Tulisan di atas sudah goe edit dan alih bahasakan istilah-istila adat kedalam bahasa indonesia yang baku. Meski mungkin masih jauh dari sempurna, semoga bermanfaat untuk generasi muda Labala.
Langganan:
Postingan (Atom)

